Monday, September 7, 2015

Graphic Designer vs. Runner



Day time, I'm a graphic designer. During my free time, I run.

Ada rasa bosan yang harus dikalahkan ketika melakukan olah raga, berlari terutama ketika harus menempuh jarak jauh. Tak ada masalah ketika saya berlari lima sampai sepuluh kilometer. Lebih dari itu, kerepotan mulai bermunculan.

Pertama, masalah hidrasi dan nutrisi. Tubuh menguras energi cadangan yang tersimpan di dalam tubuh ketika berlari jarak jauh, glikogen dalam tubuh seperti bahan bakan minyak untuk mobil. Semakin jauh jarak tempuhnya semakin repot manajemen telan-menelan ini. Pelari jarak jauh harus mempersiapkan minuman serta makanan yang mudah dikonsumsi dan mudah dicerna, sehingga tubuh mendapatkan energi yang diperlukan selama berlari.

Urusan di atas mirip seperti ketika urusan rancangan hanya berkisar logo atau stand alone poster, desainer tak menghadapi keruwetan berarti. Tapi kalau urusannya sudah aplikasi diberbagai media serta timetable yang berbeda, runyam! Tak berbeda dengan urusan persiapan hidrasi dan nutrisi, desainer juga harus mempersiapkan template dan acuan aplikasi-aplikasinya. And you know how it is.

Kedua, melawan bosan. Pelari harus melakukan gerakan yang sama berulang-ulang dalam lomba, apalagi kala berlatih. Latihan yang harus ditempuh untuk sebuah balap lari memakan waktu berbulan-bulan. Berulang-ulang dan terus menerus demi menyempurnakan form lari serta membentuk running economics yang cocok. Kira-kira mirip seperti adegan latihan dalam film Karate Kid.

Bosan bukan hal asing untuk para desainer. Menghadapi aplikasi desain yang sama terus-menerus, hanya mengubah teks dan mengurus foto membuat otak seperti disuguhi makanan yang sama terus menerus. Template yang itu-itu lagi tanpa boleh mengubahnya. Sepeti kutukan yang tak pernah diangkat.

Ketiga, rasanya tak selesai-selesai. Dalam marathon yang baru saja saya lalui, Bali Marathon 2015, walaupun saya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi jarak yang harus saya tempuh, tetap saja perasaan tak kunjung usai menyerang. Empat puluh dua kilometer rasanya seperti penyiksaan, apalagi tanjakan di kilometer 30 sampai 35. Tanpa determinasi, rasanya tak mungkin saya menerobos garis finish.

Desainer biasanya menyalahkan beberapa orang untuk hal ini; account executive dan client. Tapi sebaiknya jangan dilakukan. Bila desainer memaki-maki mereka, sama seperti pelari memaki-maki tanjakan. Tak kan bisa berubah bagaimana pun caranya. Yang hanya bisa dilakukan hanya dikerjakan sepenuh hati, sekuat tenaga, selama hayat masih dikandung badan.

Keempat, setelah selesai, harus mengulang lagi dari awal. Setelah sebuah lomba selesai dan diikuti oleh masa pemulihan, pelari harus mulai berlatih dari dasar lagi. Terus memperbaiki form yang sudah diasah sebelumnya. Menyempurnakan running economics yang sudah ditempa sebelumnya.

Setelah proses yang menyebabkan hati penat, tetap saja kan desainer harus membuat rancangan awal untuk berbagai pitching? Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan. But that's okay. That's what we prefer to do, don't we?


Day time, I'm a graphic designer who wish I could run. During my free time, I run and hope I can get back to pencil and paper.