Thursday, November 9, 2006

Giclée

Hey guys! I just found something new—at least for me—about one of the media that being disputed in art community. This is my thought:

Tahun 2000, seorang kenalan di kampus sedang menyelesaikan tugas akhir dengan kuliah mayor Seni Grafis. Saat itu banyak yang menyepelekan tugas akhirnya karena tugas akhirnya berbentuk 'print-print-an'. Dan tanpa saya tahu bagaimana prosesnya, akhirnya kenalan saya itu lulus dengan sukses.

Perdebatan soal posisi seni grafis yang dihasilkan dari mesin cetak pribadi—seperti printer— masih jadi perdebatan hingga kini. Karya seni grafis tadi kini lazim disebut sebagai seni grafis cetak digital. Kata cetak digital tentu digunakan untuk menunjukkan relasinya dengan saudara-saudara tuanya, macam cetak tinggi dan cetak saring.


'Hegemoni' Teknologi karya A.C. Andre Tanama
Dokumentasi: Bentara Budaya


Namun, dalam Trienal Seni Grafis Indonesia II yang diselenggarakan di Yogyakarta 4-11 November 2006, cetak digital mendapat pengakuan dari panitia penyelenggara. A.C. Andre Tanama dinobatkan sebagai jawara. Karyanya yang berjudul 'Hegemoni Teknologi' dihasilkan dengan cetak digital. Hasil cetak digital tersebut meniru visualisasi yang dihasilkan oleh teknik cukil kayu. (Revisi: menurut sebuah sumber, proses pembuatan 'Hegemoni Teknologi' memang diawali dengan teknik cukil kayu. Lihat comments untuk informasi yang lebih jelas.—DG)

Pada Trienal I, kategori cetak digital tak dimasukkan. Mungkin karena mazhab seni grafis konvensional masih bercokol kuat. Saat itu cetak digital masih dianggap 'seni kacangan'.

+++
Nun jauh di sana, ternyata sudah ada istilah yang lazim digunakan untuk cetak digital dalam koridor seni, yaitu giclée. Konon, istilah tadi pertama kali diperkenalkan oleh Jack Duganne. Duganne menganggap bahwa seni perlu dirangsang dengan teknologi. Pendapat Duganne yang berkaitan teknologi tadi, tentu ditujukan pada teknologi cetak yang kian canggih. Apalagi kini Duganne memiliki perusahaan percetakan giclée.

Awalnya, seni yang dicetak dengan proses digital, hanya dilakukan untuk memenuhi permintaan biro iklan. Contohnya: proof yang biasa diminta oleh biro iklan sebelum dicetak massal.

Seiring dengan kemajuan teknologi cetak, fotografer yang menggunakan kamera digital juga mulai menggunakan jasa yang disediakan perusahaan percetakan tadi. Para fotografer yang melakukan retouch pada foto-foto yang mereka buat, sangat terbantu dengan adanya giclée. Permintaan mereka termasuk menjadikan foto hitamputih menjadi sephia.

Perkembangan terakhir, teknologi cetak akhirnya mampu mencetak sebuah artwork di atas kanvas biasa dan kertas khusus untuk cat air—dan entah apa lagi di masa depan. Akhirnya, banyak seniman yang akhrinya merangkul perkembangan teknologi ini. Lama kelamaan, seni yang dicetak secara digital mulai diterima di kancah seni. Bahkan, ada seniman-seniman tertentu yang memposisikan diri sebagai seniman digital.

+++
Perdebatan soal mana yang dianggap sebagai seni dan mana yang dianggap bukan, menurut saya sebuah debat kusir yang tak akan ada habisnya kalau diperdebatkan. Lebih baik kita kembali kan seni pada hakikat kata seni, yaitu sebuah kemampuan untuk menghasilkan karya bermutu. Jadi, seorang programmer pun berhak berpredikat seniman. Tapi, kita kan seneng banget mengkotak-kotakkan berbagai hal.

Menurut saya, kenikmatan mengutak-atik media digital ini, sayangnya belum disertai kesadaran bahwa tiap media memiliki karakternya masing-masing. Sebagai contoh, A.C. Andre Tanama masih berusaha menonjolkan karakter cukil kayu dalam karya cetak digital. Padahal kalau kita menengok rekan kita yang gila pixelart, kita bisa langsung mengenali bahwa karyanya sangat menonjolkan karakter digital. Walaupun, menurut Nicholas Negroponte, citra yang terkotak-kotak itu merupakan ketidakmampuan komputer untuk menampilkan citra yang mulus.

Jadi, daripada ribut-ribut memperdebatkan mana yang seni mana yang bukan, lebih baik kita belajar lagi pada si empunya teknologi cetak. Dan ada baiknya istilah giclée yang baru saya kenal ini disebarluaskan.

Check these listings for further information:
Bentara Budaya
Jack Duganne
Nicholas Negroponte
Wikipedia

2 comments:

Anonymous said...

Menanggapi tulisan tentang seni grafis,terutama dalam nuansa Trienal Seni Grafis II, sepertinya anda kurang begitu jeli. Setahu saya, "Hegemoni Teknologi" karya A.C. Andre Tanama yang ditahbiskan jadi pemenang bukan karya yang meniru cetak cukil kayu. Why not? Becoz karya itu emang dibuat awalnya dengan teknik cukil kayu, then oleh senimannya diutak utik di komputer dan dicetak lewat teknik digital. Dengan demikian, tidak aneh bila dalam karya tersebut masih terasa kental cita rasa cukil kayunya.
Dan informasi ini bisa dipercaya, coz dari hasil wawancara dengan si artis sendiri... he...he...

posted by yakh_kanun@yahoo.com

DG said...

Yth. yakh_kanun,

Terimakasih atas koreksinya. Akan saya tampilkan dalam tulisan.

Namun, pendapat saya soal karakter cetak digital tetap tak berubah. Mengapa? Karena menurut saya, cukil kayu tetap sebagai bahan dasar dalam pembuatan 'Hegemoni Teknologi'. Toh, dalam prosesnya, tetap menggunakan sebuah software. Sehingga hasil akhirnya tetap olahan digital. Padahal, software tersebut, disadari atau tidak, memiliki karakternya sendiri.

Terima kasih.