Showing posts with label Tulisan. Show all posts
Showing posts with label Tulisan. Show all posts

Tuesday, April 30, 2019

TML, Tempo Media Lab.

Tempo Media Lab., disingkat TML, merupakan desk termuda dari kanal berita online Tempo.co milik Tempo Media Group.

Satuan tugas TML merupakan desk yang bertanggung jawab untuk pertama,  mengaplikasikan tools yang tersedia dan menciptakan tools baru untuk memperkaya berita. Kedua, bereksperimen untuk menciptakan cara-cara baru dalam menyampaikan berita.

Salah contoh yang paling saya suka adalah sebuah newsgame tentang Pilpres 2019. Permainan ini berfungsi untuk mengenalkan pernyataan-pernyataan calon pasangan presiden dan wakil presiden pada masa kampanye dan lima putaran debat di Pemilihan Presiden 2019. Nama permainan itu adalah Teliti Sebelum Memilih.

Pada masa-masa yang disebutkan di atas, hoaks tersebar begitu luas dan pekat. Media sosial turut membantu tersebarnya kabar-kabur, misinformasi, sampai disinformasi. Akibatnya para pemilih dibuat kebingungan dengan berbagai pernyataan para pasangan yang sulit dibedakan hulu dan hilirnya, ujung dan pangkalnya.

Teliti Sebelum Memilih menjadi penting dan relevan dengan para pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap Pipres 2019. Apa iya? Silakan coba berita dalam bentuk permainan itu.

...

Teliti Sebelum Memilih merupakan satu dari beberapa produk yang berhasil diciptakan oleh TML. Masih banyak produk-produk lain yang sudah tayang dan masih dalam pengembangan. TML, membutuhkan banyak waktu, energi, dan pikiran. Sejak Maret 2017.

Sebuah infografik dalam kanal Grafis di Tempo.co 


Sekembalinya dari Vietnam hingga hari ini, saya mengawasi lebih dari setengah lusin pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan daya pikir tak lazim seperti pekerjaan di TML. Hampir semuanya merupakan proyek perintis, seperti...


  1. Kanal Grafis yang berisi tentang infografis.
  2. Kanal Data yang bersisi tentang data dan pengembangannya untuk jurnalisme data.
  3. Kanal Cek Fakta yang merupakan upaya Tempo.co untuk menyanggah hoaks
  4. Kanal Investigasi yang berisi tentang artikel-artikel investigasi Tempo.co
  5. Kanal TML yang merupakan wadah untuk laporan-laporan eksperimental Tempo.co
  6. Versi Digital Majalah Berita Mingguan Tempo
  7. Versi Digital Koran Tempo
  8. Digital Pioneering Jack of All Trades 
Dan saya duga... tidak akan berhenti di situ.

Monday, October 5, 2015

Gouache

Sudah bertahun-tahun, banyak yang bertanya, "Apa itu gouache?"

Media ini populer dipakai untuk ilustrasi dan sketsa. Tapi tidak populer untuk lukisan. Hal tersebut disebabkan oleh sifat si gouache itu sendiri.

Gouache merupakan cat waterbase yang bila dibanjiri oleh air akan memiliki sifat seperti cat air.  Tapi dia merupakan cat yang bersifat opaque, yang artinya bisa ditimpa bila larutan cat tersebut dalam keadaan yang cukup kental sehingga kehilangan sifat transparent-nya.

Untuk mendapatkan gelap terang, gouache harus mencampur warna lebih gelap dengan warna putih untuk mendapatkan warna yang lebih terang dan sebaliknya. Misalnya, merah muda didapat dengan mencampur warna merah dengan warna putih.

Soal kecepatan kering, gouache cenderung lebih cepat kering dibandingan cat akrilik dan cat minyak. Berbeda dengan cat akrilik yang bila kering bisa ditimpa dengan warna lain, gouache akan bercampur dengan cat berikutnya bila cat sebelumnya dibasahi.

Gouache di toko buku terdekat.


Nah, jelaskan bukan mengapa gouache menjadi populer di kalangan ilustrator dan pembuat sketsa? Karena sifat-sifat tadi, gouache cocok menjadi solusi penggunaan media  bila dihadapkan dengan tenggat a.k.a. deadline yang ketat dan atau menggambar dengan waktu yang terbatas.

"Jadi, gouache itu apa?"

"Gouache adalah cat poster."

Monday, September 14, 2015

Desainer, Jangan Tunda Pekerjaan!

Deadline sudah dekat namun rasa malas masih belum bisa dikalahkan oleh semangat. Sebuah artikel untuk menghindari menunda-nunda pekerjaan ada di sini, silakan klik.

Tentu saja, saya bukan orang yang kebal malas. Apalagi kalau saya merasa tidak siap mengerjakan pekerjaan saya. Tentu saja juga, saya berusaha memantik api motivasi dengan mempersiapkan hal-hal yang membuat pekerjaan saya menjadi lebih nyaman.

Datang lebih awal.

Biasanya kalau saya tahu saya bakal bermalas-malasan sebelum bekerja, saya akan datang lebih awal sehingga ketika waktunya bekerja, saya sudah siap nangkring di depan komputer atau berceloteh dalam ruang rapat. Dengan datang lebih awal, membuat saya bisa mengkonsumsi berita atau pun membersihkan tumpukan email. Membaca buku bila perlu, untuk menenangkan pikiran dan memperlambat metabolisme tubuh yang menderu-deru setelah commuting.

Kripik dan kafein.

Pagi-pagi makan kripik membuat perut penuh, sementara tentu saja, sehingga pikiran teralihkan dari rasa lapar yang biasanya saya jadikan alasan untuk keluar kantor, membeli 'sesuatu'. Dan kopi, entah itu kopi panas atau Coca-Cola, membuat saya enggan jauh-jauh dari kedua sumber kafein yang saya letakkan di meja kerja atau rapat.

Daftar pekerjaan.

Sering kali pekerjaan terbengkalai karena sebab sederjana; tidak tahu apa yang harus dikerjakan, prioritas, dan tenggatnya. Nah, menuliskan tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan dalam post-it yang ditempelkan di tengah-tengah monitor, bila perlu tentu saja, memudahkan saya mengawasi progress kewajiban yang harus saya tunaikan.

Just Do It.

Jargon dari Nike itu sering saya jadikan senjata pamungkas kalau semua hal tadi tak lagi mempan.

Monday, August 31, 2015

Cara Desainer Mencari Inspirasi

Para perancang biasa menghadapi pertanyaan, "Desainnya bagaimana?" Lalu dengan enteng, biasanya akan dijawab dengan, "Sebentar ya. Cari inspirasi dulu." Percakapan seperti ini lumrah di berbagai graphic house, advertising agency, graphic division, dan bagian-bagian lain yang menyangkut desain dan kreativitas.

Celakanya, ada cara-cara salah saat mencari inspirasi yang sering kali dianggap lumrah, bahkan menjurus dianggap benar, oleh para orang-orang yang tak bergerak dibidang kreativitas. Lebih celaka lagi, cara-cara salah ini malah dipraktikkan oleh para desainer sendiri!

Untuk soal itu, saya akan menuliskannya di kesempatan lain. Kali ini, saya akan men-share apa saja yang sering saya lakukan untuk mendapatkan inspirasi.

Riset

Saya tak membatasi riset hanya di dalam tempat penelitian, yang sering kali dipersepsikan berisi orang-orang yang teramat tekun mengolah data-data detail yang sulit dimengerti. Namun riset yang saya bicarakan adalah data mining sederhana. Contoh mudah yang lazim adalah kliping, baik itu berupa potongan koran maupun kliping digital semacam Pinterest.

Membaca pun saya anggap sebagai bentuk riset. Tentunya, bacaan juga jangan sampai dibatasi pada bidang-bidang tertentu apalagi hanya bidang desain saja. Bacaan yang berisi referensi dari disiplin-disiplin lain akan berguna, mungkin tidak segera tapi pasti akan terpakai.

Tentu saja, menonton layar-layar yang mem-broadcast acara hiburan dan pendidikan juga merupakan bentuk riset.

Mindmap

Ketika mencari inspirasi, sering kali kita terbentur dengan keterbatasan kata-kata. Walaupun kata-kata juga merupakan sebuah bentuk abstrak yang bisa menimbulkan inspirasi pula, namun sering kali desainer lebih mudah mencerna informasi dalam bentuk visual.

Terdengar geeky, tapi mindmap bisa banyak membantu memetakan persoalan sehingga inspirasi bisa menghampiri. Banyak hal-hal yang tadinya terlalu rumit dijelaskan dengan kata-kata menjadi lebih mudah dipahami dengan bagan-bagan dan diagram-diagram serta tempelan Post-it di mana-mana.

Berdiskusi

Akuilah, kalau Anda belum mau mengakuinya, ada hal-hal yang tak bisa diselesaikan sendirian. Kapasitas benak kita tentu terbatas, oleh sebab itu alangkah baiknya bila desainer memiliki 'lawan-tanding' saat berdiskusi. Lebih baik lagi, bila 'lawan-tanding' bukan atau bahkan jauh dari bidang kreativitas, akunting misalnya.

Dengan berdiskusi dengan individu-individu yang tak memiliki pola pikir yang sama, para perancang akan mendapatkan kesempatan untuk mengetahui, mengerti, dan memahami perspektif orang lain yang mungkin berkecimpung di bidang-bidang non-kreatif. Hal ini bisa, kalau kita mau, memperluas perspektif.

Berolahraga

Saya menyukai olahraga permainan dan endurance, seperti permainan bola basket dan lari jarak jauh. Masing-masing dapat memberikan saya inspirasi dari sisi yang berbeda. Alasannya, dua olahraga tadi memiliki karakter yang cukup jauh berbeda.

Permainan bola basket, merupakan olahraga yang saya anggap sebagai miniatur kehidupan. Dua belas pemainnya, tujuh duduk di bangku cadangan dan lima berkeringat di dalam lapangan, memiliki peran dan karakter masing-masing yang bila dipadupadankan akan membentuk sebuah tim yang khas dengan kinerja optimum. Masing-masing pemain bisa bergantian menjadi pemimpin dan yang dipimpin selama permainan berlangsung. Permainan ini 'memaksa' saya untuk terus memutar otak saat menghadapi tiap lawan yang selalu berbeda-beda.

Hobi

Seorang desainer yang sekaligus guru saya, Priyanto Sunarto berpesan, "Seorang perancang grafis lebih baik (euphemism  kata harus) memiliki hobi." Nasehat beliau itu membuat saya mencatat berbagai hal-hal menarik yang melintas dalam kehidupan sehari-hari. Ya benar, hobi saya mencatat.

Yang saya maksud mencatat tentu saja bukan tulisan bertele-tele dan berpanjang-panjang saja. Namun termasuk mengambil foto, merekam video, membuat diagram, membuat ilustrasi, mindmap, yang kemudian berubah menjadi riset dan dokumentasi pribadi tentang segala hal.

Perjalanan

Mendekam dalam ruangan mengekang persepsi kita tentang berbagai hal, mengekang sepenuhnya atau sebagian. Dulu saya berkilah dengan, "Kan ada internet, sebuah bisa dicari melalui mbah Google dan mbak Yahoo." Dan itu salah.

Bagaimana dengan buku? Buku, yang bergelar jendela dunia, biar bagaimana pun tetap saja jendela. Tak berbeda dengan televisi, radio, dan layar ponsel. Pada akhirnya, rangsangan-rangsangan yang kita terima hanya berbagai bentuk telematika bukan merupakan first hand experience.

Apakah Anda pernah mencoba cambodian salad? Di sini, saya tak bisa menjelaskannya. Anda harus mencobanya sendiri. Itulah gunanya melakukan perjalanan. Mengalaminya secara langsung hal-hal yang tak lazim terjadi pada kehidupan kita.

Dengan begitu, benak-benak mengecap rasa lebih banyak dibandingan dengan mengucilkan diri dalam sebuah ruang.

Tidur

Saya tak tahu apakah ini berlaku pada Anda juga atau tidak, sering sekali saya berhasil menemukan solusi persoalan desain dan persoalan-persoalan lain justru ketika saya tidur lelap menjelang terjaga.

Yang paling berkesan adalah ketika saya menemui 'jalan buntu' soal teknis pengerjaan tugas akhir. Saat itu tahun 2000, setelah mati-matian mencoba ini dan itu, akhirnya saya menyerah dan memilih mematikan komputer lalu pergi tidur. Terbawa mimpi, di dalamnya saya menyalakan komputer lalu mengutak-atik tugas saya dalam Adobe Photoshop. Saat itu, saya berhasil menemukan cara yang ternyata sederhana.

Segera saya membelalakkan mata saya dan sekuat tenaga bangkit dari kasur. Sebelum kantuk hilang, saya menekan tombol power, menyalakan CPU komputer saya. Dan mencoba hal yang tadi terbawa mimpi. Dan berhasil.

Mungkin itu yang disebut sebagai the Eureka Effect. Dan saya yakin 100% bahwa efek tersebut hanya bisa terpicu bila kita sebagai desainer atau profesi apa pun, sudah mati-matian mencoba segala cara hingga raga tak kuat. Saat itu jiwa mengambil alih.

Ulangi

Setelah membaca dan kemudian mencoba semua tips yang saya jelaskan di atas, sebaiknya Anda mengulanginya lagi. Daily basis, weekly basis, monthly, yearly.... Karena pengulangan akan memberikan hasil yang berbeda karena Anda dari waktu ke waktu sudah bukan Anda yang lalu. Setidaknya pengalaman Anda sudah berbeda.

Liar

Biarkan diri Anda bebas. Dan jangan dengarkan pesan-pesan saya di atas. Serta jangan dengarkan pesan-pesan orang lain. Cobalah hal-hal baru. Karena Anda bukan mereka. Dan seringkali, inspirasi Anda, Anda dapatkan dengan cara Anda.

Ya, inspirasi Anda akan muncul. Sebentar lagi.

Tuesday, August 11, 2015

Adobe Digital Marketing Symposium 2015 - Part 2/2

Tanggal 30 Juli 2015, saya berangkat ke Singapura bersama dua teman kantor untuk menghadiri Adobe Digital Marketing Symposium 2015. Sama seperti alasan menghadiri simposium-simposium sebelumnya, saya ingin mendapatkan insights dari para praktisi hal-hal teknis soal mendesain bisa dicari dengan mudah di web. Yang membedakan lagi, kali ini yang membuat saya tertarik adalah soal pemasaran, a.ka. marketing, karena saya menganggap desain juga perlu pemahaman marketing, lebih khusus lagi digital marketing.

Dalam simposium ini, para pembicara menggunakan Adobe Marketing Cloud dan tentu saja mereka mempromosikan produk tersebut.

Post ini adalah bagian kedua dari dua bagian

Digitized Market Targeting

Waralaba Starwood Hotels and Resort mengembangkan database pelanggan yang sudah terdigitalisasi. Data pelanggan dikumpulkan melalui data anonymous dan authenticated customer yang sukarela menyerahkan data-data pribadi mereka. Dengan data-data tersebut, Starwood mengemas stategi pemasaran yang sinkron antara marketing dan brand.

Starwood dan hotel-hotel yang dikelolanya.


Sehingga Starwood tak asal-asalan mengirimkan email blast yang menyasar seluruh pelanggan dalam database mereka. Namun Starwood dapat mem-personalize email-email yang dibuat oleh tim pemasaran dan mengirimkan email-email tersebut pada pelanggan-pelanggan yang sesuai dengan strategi tim pemasaran pula. Dengan demikian, email-email yang dikirim lebih tepat sasaran.

Sementara itu, DBS Bank berusaha mengubah perilaku nasabahnya dari yang terbiasa menggunakan mesin ATM ke pengguna internet banking dan aplikasi. Salah satu caranya, DBS mengirimkan pesan singkat pada nasabahnya yang baru saja menggunakan ATM untuk memeriksa saldo. Isi pesan tersebut, "Akan lebih mudah dan nyaman bila Anda memeriksa saldo anda melalui aplikasi DBS di telepon selular Anda."

Tech Investment

Selain mengubah perilaku pelanggan, DBS Bank juga menginvestasikan resources mereka pada teknologi. Tak hanya pada back end tapi juga pada front end, seperti teknologi-teknologi yang mendukung user interface pada internet banking dan app.

Ad Agencies

Sementara di itu, Unilever mengganggap bahwa peran agensi periklanan akan berkurang seiring dengan berkembangnya marketing cloud. Tim pemasaran kini tanpa bantuan agensi dapat membuat materi-materi pemasaran dengan mudah melalui sistem Adobe Marketing Cloud. Dengan ADM, tim pemasaran juga menyingkat waktu pembuatan marketing materials dengan tersedianya template yang langsung siap digunakan.

Marketing Beyond Marketing

Coca-Cola mengembangkan pola pemasaran yang lebih jauh daripada sekedar experience yang secara analog dulu diwakili dengan rasa dingin, pemuas dahaga, dan senyuman di wajah. Secara digital, mereka ingin menjangkau pelanggan mereka dengan teknologi masa kini. Salah satunya dengan aplikasi Coca-Cola Freestyle.

Aplikasi Coca-Cola Freestyle.

Dengan aplikasi yang digunakan melalui smartphone pelanggannya, para pelanggan dapat membuat resep campuran berbagai produk minuman dari Coca-Cola. Lalu resep itu disimpan dalam ponsel masing-masing pengguna yang sewaktu-waktu dapat digunakan langsung ke vending machine Coca-Cola dengan cara 'melemparkan' resep tadi.

Conclusion....

Dari simposium itu saya belajar bahwa kini saatnya para desainer tak cukup hanya merancang printed matters, tampilan dalam website, grafis-grafis dalam user interface pada berbagai aplikasi. Namun desainer kini dituntut untuk dapat menciptakan sebuah dunia. Singkatnya, Worlds insted of Websites.

Tulisan di atas berdasarkan pengalaman rangkuman dari pembicara Chris Norton dari Starwood Hotels & Resorts, Domenic Fuda dari DBS Bank, dan Aseem Puri dari Unilever.

Adobe Digital Marketing Symposium 2015 - Part 1/2

Tanggal 30 Juli 2015, saya berangkat ke Singapura bersama dua teman kantor untuk menghadiri Adobe Digital Marketing Symposium 2015. Sama seperti alasan menghadiri simposium-simposium sebelumnya, saya ingin mendapatkan insights dari para praktisi hal-hal teknis soal mendesain bisa dicari dengan mudah di web. Yang membedakan lagi, kali ini yang membuat saya tertarik adalah soal pemasaran, a.ka. marketing, karena saya menganggap desain juga perlu pemahaman marketing, lebih khusus lagi digital marketing.

Dalam simposium ini, para pembicara menggunakan Adobe Marketing Cloud dan tentu saja mereka mempromosikan produk tersebut.

Post ini adalah bagian pertama dari dua bagian.

Product and Brand as Marketing

Dalam dunia desain, produk akhir harus selalu mewakili brand. Layout majalah harus mampu menampilkan roh dari merek dagang tertentu. Begitu pula dengan pemilihan foto dan pembuatan video. Semua harus selaras.

Tentu saja tujuan akhir dari desain yang selaras, misalnya, adalah terjadinya brand awareness dan peningkatan penjualan. Namun di saat-saat seperti sekarang ini, praktisi desain dan praktisi pemasaran tak boleh berhenti di situ saja. Namun harus berkembang menjadi usaha-usaha untuk menciptakan loyalties, termasuk usaha-usah untuk meng-upgrade pembeli eceran menjadi pelanggan setia.

Consistent and Continuous

Selaras dan berkesinambungan adalah mantera yang sering dirapal oleh para desainer sehingga, contohnya, seluruh layout dalam printed matters selaras. Dalam ADM 2015, definisi Consistent and Continuous diperlebar lebih jauh lagi.

Hal-hal yang harus selaras dalam produk-produk desain kini juga merangkum user/customer experience dalam layar-layar berbagai perangkat digital, customer services, advertisement campaign, dan produk itu sendiri.

Salah satu brand yang selaras dan sinambung soal pemasaran, dalam pikiran saya, tentu saja Apple Inc.

Apple Store di Fifth Avenue, New York.

Apa yang terjadi apabila sebuah brand tidak selaras dan berkesinambungan? Ketidakselarasan dan ketidaksinambungan sebuah merek dagang akan membingungkan pelanggan sehingga salah satu akibat yang mungkin terjadi adalah pelanggan harus mengalami user/customer experience yang berbeda-beda saat pelanggan menggunakan perangkat dengan dimensi layar yang berbeda. Akibatnya, pelanggan akan terus mengalami proses pembelajaran yang akan membuat mereka frustasi. Akhirnya pelanggan akan meninggalkan brand.

Tulisan di atas berdasarkan pengalaman saya yang saya alami dan tambahan rangkuman dari pembicara Brad Rencher dari Adobe Digital Marketing.

Monday, March 23, 2015

M. Arsad bin Mamit a.k.a. Babe Genset


EULOGI

M. Arsad bin Mamit
29 Desember 1953 - 23 Maret 2015

Hujan atau terik, dia selalu tersenyum dengan susunan gigi yang ada dan tidak. Becanda dan bekelakar selalu jadi kesehariannya. Cengar-cengir.

Sering dia dan saya duduk berdampingan menikmati hidangan dari warung ibu, ya... warung tanpa nama itu. Selama makan, tak mungkin kami tak baku ledek dan tertawa terkekeh-kekeh. Dan tak jarang santapan menyedak tenggorokan karena salah masuk. Hiruk-pikuk terdengar oleh seisi warung, entah terhibur atau sebal.

Dia kami panggil babe Genset. Enggak perlu ditanya kan kenapa Genset? Baru ketika melayat ke liang lahatnya, saya ketahui namanya bukan Rahmat, nama yang juga sering disematkan padanya oleh para tetangga.

Babe sudah pergi tapi akan tetap gue kenang dia setiap makan di warung mana pun, bernama atau tidak.

Selamat jalan. Nanti kita makan bareng lagi di alam berikutnya. Baku ledek pula tentunya.

*Babe adalah operator pembangkit listrik darurat Tempo Inti Media tbk. di  kantor Kebayoran Center.

Thursday, October 16, 2014

Video Pemotretan Jokowi di Klender


Video pemotretan presiden terpilih Joko Widodo. Selamat menikmati. Untuk yang ingin menikmati behind the scene pemotretan presiden terpilih Joko Widodo dalam bentuk foto dan teks, silakan klik post ini.

Pemotretan Jokowi di Klender

Sabtu, 11 Oktober 2014
Di sebuah tempat jual beli kayu gelondongan di Klender, saya dan pemimpin proyek edisi inaugurasi Ratih Purnama Ningsih celingukan melihat tempat-tempat yang akan dijadikan lokasi pemotretan presiden terpilih Joko Widodo untuk majalah Tempo yang akan diterbitkan tanggal 20 Oktober 2014, bersamaan dengan dilantiknya Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2014 - 2015.

Salah satu tempat jual beli kayu gelondongan di Klender.

Kami setidaknya harus menentukan tiga tempat pemotretan. Tempat sang presiden terpilih menyerut kayu, memilih sebuah balok kayu, dan bersepeda pergi dari tempat ini. Beruntung lokasinya menunjang.



Minggu, 12 Oktober 2014
Kembali ke Klender. Kali ini saya bertiga, bersama Ratih dan Ijar Karim. Kami kembali ke lokasi yang berada di dekat pertigaan Pahlawan Revolusi dan Cipinang Muara III. Sesampainya di sana, tim dari pihak Jokowi—panggilan Joko Widodo—sudah menunggu.

Sesampainya di sana, saya dan Ratih menunjukkan kepada Ijar tempat-tempat yang sudah kami tentukan sebelumya. Tanpa berlama-lama Ijar segera menge-set tempat dengan menentukan posisi kamera dan lampu-lampu kilat.

Lampu-lampu kilat yang akan kami pegangi selama pemotretan.
Kami tak punya banyak waktu persiapan. Sebelum persiapan selesai, seorang anggota Paspampres menjawil saya, "Bapak sudah mau berangkat. Dua puluh menit lagi sampai."

Ijar Karim sudah terbiasa bekerja dalam waktu sempit. Sehingga pemberitahuan anggota Paspampres tadi tak begitu dihiraukannya. Ia tetap berkonsentrasi mempersiapkan lokasi pemotretan. Sang fotografer meminta saya dan Arif Zulkifli, pemimpin redaksi Tempo, untuk menjadi model sebelum presiden tiba nanti.

Pemred jadi model dadakan.
Karena tempatnya yang cenderung sulit dipersiapkan, Ijar meminta Ratih dan saya untuk memegangi tiga buah lampu kilat supaya mudah diarahkan dengan voice control, alias digerakan dengan perintah mulut. Lagi-lagi cara begini bukan yang pertama kami lakukan.

Lampu kilat dipegangi oleh Ratih.
Begitupula dengan rail. Tak ada waktu dan tempat yang cukup untuk mempersiapkan rel sehingga akhirnya Ijar kembali memerintahkan Ratih dan saya untuk memegangi flash, kali ini sambil berjalan mengikuti presiden terpilih Joko Widodo mengendarai sepeda.

Lampu flash berjalan.
Singkat cerita, inilah cover majalah Tempo yang akan terbit tanggal 20 Oktober 2014.

Selamat menikmati. Untuk yang ingin menikmati behind the scene pemotretan presiden terpilih Joko Widodo dalam bentuk video, silakan klik post ini.

Wednesday, September 24, 2014

Priyanto Sunarto

Priyanto Sunarto. Foto milik DKV FSRD ITB

UELOGI

Priyanto Sunarto
10 Mei 1947 - 17 September 2014

Empat semester saya berkuliah di FSRD, saya sering mendengar nama Priyanto Sunarto berdengung dalam perbincangan sehari-hari di antara para mahasiswa tingkat tiga dan empat. Nama beliau sering mencuat dalam diskusi sehari-hari para dosen. Nama beliau diucapkan seolah-olah nama yang bukan berasal dari muka bumi. Ethereal.

Sebelum tahun 1998, saya tak mengenal Pak Pri—begitu saya memanggilnya. Dalam dua tahun berkuliah, saya hanya beberapa kali saya berpapasan dengan beliau di dalam program studi Desain Komunikasi Visual yang terletak di lantai dua Fakultas Seni Rupa dan Desain, fakultas yang letaknya di bagian depan Institut Teknologi Bandung.

Baru di kelas Ilustrasi III saya bertatap muka dengan beliau di dalam ruangan. Tahun ketiga di kampus inilah baru saya benar-benar melihat pak Pri dengan jelas dalam waktu yang cukup lama.

Beliau tampak biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Perawakannya kira-kira setinggi saya. Pandangannya berkabut seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Senyumnya tipis, antara iya dan tidak. Bicaranya tak jelas dengan suaranya yang dalam. Tipe laki-laki yang takkan saya hiraukan bila melintas di keramaian.

Berbanding terbalik dengan reputasinya yang sudah mencapai 'legenda hidup'.

Namun saat itu, dalam waktu kurang dari dua jam saya mulai bisa lihat bentuk asli sang legenda. Pak Pri menunjukkan tajinya, menunjukkan siapa beliau sesungguhnya, membagi ilmunya tanpa takut kehilangan, menyediakan waktunya yang takkan mungkin kembali.

Dalam semester itu dan semester berikutnya, beliau membeberkan koleksi pribadinya dalam proses belajar-mengajar. Koleksinya tak hanya koleksi dua-tiga tahun terakhir tapi koleksi sejak dia mulai mengoleksi, yaitu koleksi masa kanak-kanaknya, masa sekolahnya, masa kuliahnya, masa kerjanya, hingga masa itu. Beliau juga memampangkan karya-karyanya kuliahnya hingga karya-karya beliau yang terbaru, kumpulan karya yang dikumpulkan selama hampir tiga dekade!

Proses yang saya anggap hanya proses belajar-mengajar antara mahasiswa dengan dosennya pelan-pelan berubah menjadi proses master and apprentice, seperti padawan yang berguru pada jedi.

Pak Pri melakukan segalanya dalam proses itu, kecuali satu hal. Menurut saya hal yang tak dilakukan beliau itu merupakan hal yang paling mendasar dari cara beliau mengajar; sang dosen tak pernah mau memberitahu jalan mana yang harus diambil para mahasiswanya.

Dia memaksa kami untuk menentukan jalan kami masing-masing. Menjerumuskan kami untuk memutuskan sesuatu yang kami tak pernah tahu benar atau salah. Mendorong kami untuk berani berbuat daripada diam terbingung-bingung. Ajaibnya, pak Pri tak pernah melakukannya dengan gaya dosen killer, tapi beliau selalu mencabuk kami dengan senyum cengengesan.

Terkesan dengan cara beliau mengajar, saya bertekad untuk 'memaksa' beliau menjadi dosen pembimbing saya untuk tugas akhir nanti. Caranya, ketika semester ketujuh hampir selesai, saya sudah 'menyalip' penentuan dosen-dosen pembimbing tugas akhir dengan menyodorkan beliau contoh calon tugas pamungkas saya. Contoh kasar dari sebuah tugas yang belum pernah dilakukan oleh rekan-rekan mahasiswa sebelum saya, setidaknya sepanjang pengetahuan saya.

Cus. Tugas akhir komik stereogram.

Saya menyorongkan stereografi dalam bentuk komik sebagai tugas akhir kepada pak Pri. Saat itu beliau berkomentar dengan wajah datar, "Ah, kan masih semester nanti...." Dalam hati saya berkata, "Biarlah, yang penting nekat dulu." Walau tampaknya gagal tapi dua bulan kemudian tekad saya terkabul. Entah karena usaha saya 'menyalip' atau memang hasil diskusi para dosen. Either way, it was all good for me. Jadilah beliau dosen pembimbing saya untuk tugas akhir.

Kata stereografi mungkin terdengar aneh, tapi teknik ini adalah bentuk dasar dari film-film 3D yang kini mulai lazim ditayangkan di bioskop-bioskop. Untuk mencari penjelasan ilmiah mengenai stereografi saya harus menyeberangkan ke jurusan Fisika Teknik. Nah, sebagai landasan teknis, saya menggunakan karya Budi Widagdo yang berjudul 'Perangkat Optik Merekam Gambar Stereo dengan Penyajian Warna'.

Selama bimbingan, pak Pri selalu iya-iya saja. Hanya sesekali bertanya kelengkapan makalah dan hal-hal yang akan dipresentasikan. Khas pak Pri. Namun tiba-tiba di suatu sore beliau menyatakan sesuatu yang mengejutkan, "Nanti ketika presentasi, kamu harus jadi orang yang paling pinter di ruangan." Saya diam saja mendengarnya. Sebab kalau saya bertanya balik, beliau pasti menjawab, "Kamu cari caramu sendiri."

Long story short, saya akhirnya lulus dengan nilai yang saya harapkan.

Selesai berkuliah di FSRD ITB, saya kemudian bekerja di majalah berita mingguan Tempo selama 10 tahun. Ketika di bergabung di Tempo, saya terkejut karena ternyata pak Pri telah berpartisipasi sebagai ilustrator sejak tahun 1977. Dan beliau telah menjadi icon majalah Tempo sebagai kartunis yang tak tergantikan.

Setiap Rabu, pak Pri selalu menghadiri rapat Opini, rapat yang menentukan sikap Tempo setiap edisi. Bahkan di saat-saat terakhir beliau. Kartunis Tempo itu hampir pasti pulang pergi naik kereta api dari Bandung ke Jakarta. Mungkin, itu semacam ritual.

Dua tiga bulan sebelum kepergian beliau, pak Pri masih ngotot datang rapat Opini di Tempo. Beliau sudah ditopang oleh tongkat dan langkahnya sudah tertatih-tatih. Beberapa kali datang di atas kursi roda. Tubuhnya tak seperti dulu lagi, layu.

Tapi ada yang tak berubah. Pak Pri tetap cengangas cengenges bercanda-tawa dengan awak redaksi Tempo dalam rapat dan sesekali berubah serius ketika ada hal yang menarik dan serius dalam rapat Opini. Matanya yang berkabut itu menyala-nyala. Barangkali beliau merasa 'hidup' di rapat itu. Setidaknya itu yang dirasakan istrinya, bu Euis.

Kebetulan yang menarik bahwa pak Priyanto Sunarto wafat di hari Rabu. Membuat saya selalu mengenang pak Pri setiap rapat Opini dilaksanakan.

Sampai jumpa pak Pri, di kehidupan berikutnya.

Monday, March 11, 2013

James Wattimena

Foto diambil tanggal 30 Januari 2013.


EULOGI

Papa James wafat pukul 21.45 pada 24 Februari 2013 di kediamannya, perumahan Anggrek Mas 2, Batam. Beliau lahir 20 Juli 1940 di Ambon, Maluku. Tanggal 4 Juli 1967, papa menikahi mama Erna, kemudian dikaruniai dua putri, yaitu kakak Eka dan Sacha — yang lantas menjadi istri saya tercinta.

Saya pertama kali bertemu beliau tahun 2000 di rumahnya yang berlokasi di Pulomas, Jakarta. Saat itu saya sedang mengunjungi Sacha di suatu malam.

Untuk orang yang berumur 60 tahun, papa masih terlihat gesit dan terampil, langsing namun kukuh. Dengan kemeja lengan panjang yang lengannya disingsingkan, tampak kedua belah tangannya yang kasar dan kasap. Debu dan sisa serutan kayu menempel di ujung-ujung kaki pantalonnya. Dari balik kacamatanya, bola matanya berkilau seperti mutiara hitam, dalam seolah tanpa dasar. Jarang saya bertemu orang seumuran itu dengan binar mata secerah malam berbintang gemintang. Saat itu papa baru menuruni tangga dan menyapa saya sekilas saja.

Berduaan di ruang tamu, Sacha menceritakan tentang papa James serta tempat bernaung yang dicintainya itu. Mendongengi saya tentang ayahnya yang membangun rumah tersebut dari pondasi hingga atap dengan kedua belah tangannya. Mendirikan tiang-tiangnya dengan punggungnya. Merawat setiap sudut dengan hatinya.

Bicara tentang kepribadian, istri saya itu mewarisi gelora papanya. Amarahnya mudah meledak seperti dinamit bersumbu pendek. Pendiriannya teguh seperti karang yang tak mau digeser. Daya upayanya tangguh seperti banteng yang menolak untuk takluk. Pikirannya tajam seperti pisau yang selalu terasah. Anehnya, sekaligus lembut seperti kapas.

Sepanjang cerita, Sacha terus tersenyum dan pandangan matanya menerawang jauh. Saya yakin dalam hatinya ia bangga akan papa James.

Tanggal 25 Februari 2013 adalah saat terakhir saya melihat papa di bawah terang sinar matahari, dihembus angin sejuk, dalam naungan teduh Rumah Duka Marga Thionghoa, Batam. Beliau terbaring dalam tabur bunga anggrek di atas tilam putih dalam peti pernis coklat tua. Papa James masih tampak seperti laki-laki yang saya jumpai di Pulomas. Hanya seperti memejamkan mata, lelap tertidur.

Papa tercinta dikebumikan di pekuburan Sei Temiang sebelum matahari terbenam di cakrawala, di balik nisan-nisan bersalib, di bawah arak-arakan awan. Dikelilingi hamparan rumput, dipagari pohon-pohon, dan dipeluk bukit-bukit. Sejuk dan teduh masih menemani.

Sebelum undur diri, saya hapus titik air mata terakhir di balik kacamata hitam dan menghela nafas keluar dari dada. Dengan tersenyum dan menolak berkata selamat tinggal, "Sampai jumpa lagi papa James. Pasti."

Sunday, September 9, 2012

Di Antara Dua Menara

Bzzzt! Membasmi nyamuk sebelum tidur menjelang sahur.

Tak apa sudah lewat hampir sebulan, toh masih banyak yang masih dalam suasana liburan dan warung-warung belum juga buka. Saya ucapkan selamat Idul Fitri 1433H bagi yang merayakan. Semoga Tuhan menerima ibadah kita selama bulan Ramadhan.

Tahun ini saya kembali merayakan Idul Fitri di Jakarta setelah dua tahun belakangan merayakannya di Việt Nam. Ada kebahagiaan sendiri kembali di antara anggota keluarga besar dan teman-teman dekat. Apalagi setelah Cedric, anak pertama di keluarga kecil saya, bergabung dengan keluarga kami tahun ini.

Selain Hari Kemenangan, di bulan Ramadan kali ini saya juga mengalami sesuatu untuk pertama kalinya sejak pertama kali saya berpuasa; bolong sehari. Kali itu saya yang kuasa menahan amukan asam lambung yang membuat saya mengeluarkan isi perut dan keringat dingin membahasai sekujur tubuh.

Rasanya aneh, perasaan tak lengkap. Tapi tak soal, saya menambalnya di hari kedua Syawal.

Dua tahun tak di Ibukota membuat saya merasakan hal-hal yang sebelumnya tak saya hiraukan. Panas dan lembab. Jorok dan tercemar. Penuh dan tersendat-sendat.

Berbagai urusan tak bisa selesai dalam hitungan beberapa jam karena tejebak di kemacetan lalu lintas. Kesemrawutan ada di mana-mana. Ternyata negaraku belum semaju pikiran yang tertanam di benak.

Dua Menara. Nostalgia di Masjid Istiqlal.

Saya juga mendapati kesulitan untuk mendapatkan objek yang menarik untuk di foto. Mungkin karena saya sudah terlalu biasa di kota ini. Sulit sekali mendapatkan objek yang bisa 'asal dijepret' lalu hasilnya menarik, apalagi bagus. Akhirnya saya memutuskan untuk Jumatan di masjid Istiqlal yang jaraknya kira-kira limabelas menit jalan kaki dari rumah keluarga saya di daerah Gunung Sahari. Di bawah terik matahari, di dalam polusi udara.

Barulah dengan usaha lebih saya bisa melihat objek-objek yang menarik untuk difoto. Apa ini artinya segala sesuatu harus didapat dengan berjibaku di Jakarta?

Mungkin.

Monday, April 2, 2012

The Raid a.k.a. Serbuan Maut


Saya tak akan bahas penghargaan yang diterima dan sambutan terhadap film ini. Sudah banyak yang menuliskannya, jadi saya memilih untuk menuangkan apa yang saya rasakan soal The Raid.


Awalnya, "Film macam apa sih ini?"


Biasanya film-film yang banyak bicara beradu peran dan diselubungi teka-teki lebih bisa menghibur saya dibandingkan film laga tapi untuk The Raid saya buat pengecualian. Saya menaruh harapan di pintu masuk bioskop, masuk studio dengan pikiran terbuka, dan duduk tanpa ekspektasi apa-apa di depan layar.

Saya terganggu dengan cara aktor dan aktris di film ini berdialog. Percakapannya sulit saya pahami karena artikulasinya seperti orang berkumur-kumur dengan cairan empedu. Para memerannya kalau bukan nyerocos tak jelas ujung pangkal, ya terbata-bata seperti tersedak batu kali. Hanya dua orang yang saya mengerti ucapannya ketika mereka menyemburkan caci maki, yang pertama adalah si rambut putih Pierre Gruno dan satu lagi tentu saja Ray Sahetapy.

Tapi, "Hey!, ini film laga bung!"

Kekejian dalam tontonan ini dimulai Tama, yang diperankan Ray, membantai beberapa orang, entah siapa, dengan membungkam, memaksa berlutut, dan menyarangkan apa yang biasa ditembakkan revolver laras pendek itu ke dalam batok-batok kepala mereka satu persatu. Dor... dor... dor... dor... klik. Klik? Klik klik klik! Oh, habis di sasaran terakhir. Sang antagonis dengan gontai mencari peluru untuk mengisi ulang senjata yang digenggamnya. Alih-alih mendapatkan pelor, ia mendapatkan palu. Setelah ia menyeringai, Anda tentu sudah tahu apa kelanjutannya. Adegan selanjutnya membuat saya ingin memuntahkan hotdog yang saya  makan tak lama sebelumnya.

Begitu senapan-senapan yang dipanggul oleh pasukan khusus menyemburkan peluru membalas berondongan pelor dari bedil-bedil sejumlah penghuni apartemen tempat bersarang para penyamun, saya mulai menahan nafas dan mencengkeram lengan kursi.

Timah-timah panas berdesingan merobek kulit, menembus daging, dan menghancurkan tulang. Parang dan belati berkelebat mengiris dan menusuk. Air liur muncrat ketika rahang seseorang dihantam lutut lawannya. Darah bercucuran ketika batang hidung dibogem dengan kepalan yang datang entah dari mana. Gigi-gigi saya gemertak menahan ketegangan yang dijejalkan adegan-adegan laga itu.

Kebrutalan film ini terus berlanjut. Seseorang bukan cuma diterobos peluru tapi juga ditebas parang, diseruduk bogem-bogem mentah, ditendang telapak-telapak kaki. Tubuhnya diangkat lalu dibanting, entah ke lantai, ke meja, atau ke dinding. Belum puas? Yak, dilempar ke jendela, jatuh menghantam lantai dasar. Luluh lantak seperti daging steak mentah digebuk martil kayu. Adegan yang tak cocok ditonton penderita sakit jantung.

Dan, "Wah! Bisa juga rumah produksi tanah air bikin film kayak gini!"

Salut untuk Yayan Ruhian! Rangkaian panjang kombinasi pukulan dan tendangan, dalam dua perkelahian yang melibatkan dia, begitu deras mengalir. Saya bisa merasakan nyeri dia hujamkan pada rusuk pada Joe Taslim yang memerankan Jaka si sersan pemimpin pasukan, sakit yang dia tancapkan pada organ-organ vital Donny Alamsyah yang memerankan Andi, dan derita yang dia tanamkan pada sendi-sendi tulang Iko Uwais yang memerankan Rama sang protagonis.

Lalu, "Yeah! Mad Dog emang paling punya greget!"

Selesai pertunjukkan, film ini masih terus memancing diskusi antara saya dan teman-teman yang menonton bersama. Sepanjang makan malam seusai tontonan itu, kami terus melontarkan pendapat yang mengerutkan kening maupun melepaskan derai tawa. Kami sepakat bahwa penggemar film laga harus menonton film ini. Dan untuk penggemar film jenis lainnya, tontonlah juga film ini. Sebuah milestone perfilman nasional.

Akhirnya, "Tontonlah! Dan jangan bawa anak-anak!"

Tuesday, March 20, 2012

Dua Tahun di Vietnam

Judges Cull. Shoot terakhir di Việt Nam.

Selama hampir dua tahun di Việt Nam, banyak hal yang terpahat dalam hati saya. Dua puluh empat bulan penuh kegiatan seperti atraksi wahana roller coaster. Sepenggal kisah yang tak akan terhapus dari ingatan. Inilah serpihan-serpihan kenangan itu....

WARGA INDONESIA
Selama setahun pertama di Vietnam, waktu saya tersita untuk pekerjaan kantor. Kebetulan kantor, yang merupakan rumah produksi lokal, memang menuntut jam kerja yang enggak menentu. Selain itu, penyesuaian ritme kerja di kantor juga perlu usaha yang lebih keras karena saya sengaja tak meminta penterjemah.

Setelah dua belas bulan lewat, akhirnya saya memutuskan untuk ikut nyemplung ke kegiatan Masyarakat Indonesia di HCMC. Itu pun karena ajakan teman yang dititipkan teman. Ha ha ha, terlambat memang, tapi tak mengurangi keasyikan dan kekonyolan yang bikin nyengir sepanjang tahun.

Dua kegiatan yang membuat saya dekat dengan Masyindo HCMC, yang pertama adalah Indonesia Day, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia di Ho Chi Minh City. Dalam acara ini, Masyindo dimintai pertolongan oleh KJRI untuk ikut membantu kelancaran acara tersebut. Acara yang berlangsung hanya sehari itu dianggap sukses. Setidaknya panitia berhasil mendangdutkan para pemuda kader partai komunis.

Yang kedua adalah Pesta Rakyat 2011. Pesta ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Nah, demi ramainya acara ini, panitia memajukan peringatan bukan di bulan Agustus tapi di bulan Juni.

Doyan gembira-ria. Teman-teman seperngawuran.

Setelah menjadi teman, akhirnya merekalah yang saya anggap keluarga di HCMC. Apalagi warga kompleks saya doyan nongkrong bareng makan enak, jalan-jalan, dan nonton film. Jadilah.

BHD
Cara kerja mereka yang berbeda sama sekali dengan cara kerja yang saya anggap efisien akhirnya saya anggap bahwa sayalah yang mengalami culture clash. Banyak hal yang sebenarnya bisa dikerjakan dengan lebih mudah dan lebih terencana, dikerjakan dengan awut-awutan. Anehnya, pekerjaan yang saya anggap awut-awutan itu sudah dianggap bagus dan menjadi semacam benchmark di Việt Nam.

Namun, saya banyak belajar dari culture clash tersebut. Sebuah perusahaan yang berdiri sudah limabelas tahun dan rasanya perusahaan itu bisa meroket lebih tinggi, kalau kekhawatiran saya tak jadi kenyataan. Semoga saja tidak.

Makan malam terakhir. Teman-teman kantor segerombolan.

Di kantor saya menjadi dekat dengan para pekerja kasar, pegawai biasa, dan pemilik perusahaan. Awalnya cenderung njelimet dan sering saya merasa dianggap sebagai alien dari planet lain oleh warga Vietnam. Namun karena saya nggak suka pilih-pilih pekerjaan, dengan sendirinya saya dan mereka menjadi dekat dan bahkan jadi teman main.

KOPI
Sekembalinya saya ke Jakarta, indra perasa saya agak-agak terkejut dengan kopi tanah air yang cenderung lebih encer dan tawar dibandingkan dengan kopi negeri Paman Hồ. Wah, gawat! Secangkir kopi super enak bisa saya nikmati di emperan jalan dengan harga VND 6.000, kurang dari setengah Dolar Amerika atau sekitar 2.500 Rupiah Indonesia. Sedangkan kopi di gerai-gerai kedai kopi dari negeri Paman Sam baru bisa didapat dengan harga 30.000 lebih, itupun rasanya ya... begitulah.

Kopi di kota Hà Nội. Makin ke utara makin asam dan kental.

MAKANAN
Tujuh kilogram bobot tubuh saya bertambah di Vietnam. Harga makanan yang kira-kira setengah sampai sepertiga harga makanan di Jakarta membuat saya garuk-garuk getir melihat perut yang membuncit. Itu karena saya jadi makin doyan makan di negeri tersebut.

Entah mengapa, rasa makanan di Vietnam terasa lebih segar dibandingkan makanan di tanah air, terutama sayur mayur. Mungkin karena warga Vietnam sangat gandrung memakan sayur. Mereka lebih kesal kalau makanannya tak ada sayur mayurnya dibandingkan dengan makanan yang tak ada dagingnya.

Restaurant Bobby Chinn. Hidangan di cabang Hà Nội.

Di restoran-restoran yang sudah dianggap mewah, makanannya lebih enak lagi! Ditambah lagi, ya... itu, harganya hanya separuh dari harga yang dibonkan pada kita di Jakarta. Contoh, untuk tujuh orang makan malam di restoran milik Bobby Chinn menghabiskan enam juta Việt Nam Đồng, setara dengan dua setengah juta Rupiah Indonesia. Course-nya lengkap dari pembuka, utama, penutup, plus sebotol anggur.

Gawat deh kalau soal makanan....

BUSANA PEREMPUAN VIETNAM
Ucapan yang pertama kali saya lontarkan pada istri saat pulang ke Jakarta, "Wah, di sini kok perempuan pakaiannya ketutup semua ya."

Phan Anh dan Lê Hồng Nhung.

Untuk perempuan Vietnam, berpakaian minim dan tembus pandang bukan tabu. Tak perempuan, apalagi laki-laki, ada yang risih dengan gaya pakaian mereka yang buka-bukaan menurut standar Indonesia. Di negeri ini saya merasa bahwa memang pakaian dalam adalah bagian dari fashion yang juga harus dipikirkan karena akan terlihat oleh khalayak. Toh, pakaian nasional mereka pun memang menerawang.

Lucunya, tak ada laki-laki yang melotot dengan pandangan menelanjangi saat ada gadis Vietnam yang melintas. Apalagi menggoda dan bersuit-suit. Kalau suka dengan seorang gadis, laki-lakinya biasa langsung mendekati si yang disukai dan mengajak ngobrol. Dan jarang sekali ada gadis Vietnam yang langsung menolak mentah-mentah seorang laki-laki yang mengajak mereka berbicara.

Saturday, October 8, 2011

K800i, iPhone4, dan Ayub

Sony Ericsson K800i. Kamera tapi telepon seluler.

Selama beberapa tahun, Sony Ericsson K800i menjadi andalan saya. Daripada telepon selular, saya lebih menganggap perangkat ini sebagai kamera saku. Ya, kamera saku yang bisa menelepon, sms, dan mem-browse internet.

Dengan gaya seperti koboi mencabut pistol, kamera saku ini keluar dari kantong celana saya dan jepret, jepret, jepret! Lalu masuk kantong lagi. Di kereta api, di tengah hutan, di atas gedung, bahkan saat membonceng ojek. Saat itu rasanya keren... dan tetap keren rasanya sampai sekarang. Apalagi, kamera telepon ini didesain memiliki tombol shutter relase. Jadi kamera candybar ini tetap dipakai secara horizontal kalau mengambil foto.

Kamera saku tentunya punya keterbatasan, apalagi yang dileburkan dalam telepon genggam. Lensanya sungguh kecil walaupun dikompensasi dengan ukuran foto digital yang mencapai 3 megapixel. Ukuran terbesar untuk foto digital yang dapat diambil kamera dalam telepon saat itu.

Nah, foto-foto yang saya ambil oleh kamera saku itu memang hanya saya pergunakan sebagai dokumentasi bukan untuk dipublikasikan apalagi dicetak. Foto-foto itu juga saya pergunakan dalam blog ini. Tentunya setelah diolah lagi dengan software pengolah foto.

Setelah itu demam RIM BlackBerry datang menerpa. Walaupun saya tak suka telepon ini tapi akhirnya saya mengalah untuk beberapa alasan.

Lalu datanglah iPhone, smartphone yang awalnya ragu-ragu untuk saya miliki walaupun sudah beberapa tahun saya mulai menggunakan Apple OS.

iPhone 4. Telepon dengan berbagai aplikasi menyenangkan.

Baru beberapa minggu yang lalu, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan telepon super canggih ini. Walaupun bekerja di Việt Nam, saya memilih untuk membelinya di Singapura karena jauh lebih murah setidaknya sekitar US$100.

Setelah mengutak-atik setting dan berbagai aplikasi, akhirnya saya akui bahwa telepon ini hampir pantas mendongkel status K800i sebagai telepon favorit, maaf, kamera saku favorit. Sebabnya, kamera ini sudah dilengkapi dengan lensa yang lebih baik dan besar foto 5 megapixel—saya anggap terlalu kecil untuk kamera secanggih ini. Lalu ada berbagai keterbatasan dalam iOS4.

Seharusnya kamera ini sudah disediakan aplikasi untuk mengolah foto. Tentunya tak perlu secanggih software pengolah foto di komputer desktop ataupun laptop. Akibatnya, berbagai penyedia aplikasi pihak ketiga membanjiri App Store. Gawatnya lagi, kamera ini tak memiliki tombol shutter release! Ah, untungnya kekecewaan saya akan diobati dengan diluncurkannya iOS5 pada pertengahan Oktober 2011 nanti. Mungkin saat itu kamera saku ini akan sepenuhnya pantas mendongkel status K800i dalam hati saya.

Dan, ah, ya... saya juga mengajukan belasungkawa untuk Steve Jobs. Yang nama dan kisahnya seperti Ayub. Pernah kehilangan segalanya lalu yang hilang itu diganti dengan segala sesuatu yang lebih baik. Selamat jalan, pasti diterima sesuai amal ibadahnya.

Monday, August 22, 2011

Selamat Makan untuk yang Tidak Berpuasa

Ada yang berbeda di dua Ramadhan terakhir. Dua tahun terakhir, saya berpuasa Ramadhan di Việt Nam yang sebagian besar penduduknya bukan muslim. Jadi, selama dua tahun ini saya berada dalam posisi yang belum pernah saya alami sebelumnya; pemeluk agama minoritas.

Lucunya, dua kesempatan puasa Ramadhan tahun ini dan tahun lalu sama sekali tak terasa berat. Ada beberapa alasan. Yang pertama, istri saya semakin rajin memasakkan sahur. Semakin hari masakannya makin lama makin lezat. Dan yang terpenting, dia memasakkan masakan yang sesuai dengan selera saya.

Selamat Menikmati. Hidangan yang disiapkan istri.

Yang kedua, karena teman-teman Việt Nam seluruhnya bukan muslim mereka beraktivitas seperti biasa. Begitu pula dengan teman-teman kantor, selain tiga orang dari Indonesia, semuanya tentunya tak berpuasa dan juga bekerja juga seperti biasa. Jadi tak ada wajah-wajah lesu di kantor yang mempengaruhi saya.

Sebagai alasan ketiga, rasa rindu akan masakan Indonesia mudah terobati dengan rekan-rekan yang mengadakan buka puasa bersama, beken disebut bukber. Dua hari lalu, Masyarakat Indonesia di HCMC dibantu Konsulat Jenderal Republik Indonesia melaksanakan buka puasa bersama. Saat itu tersedia bala-bala a.k.a. bakwan yang rasanya juara! Dan dua bulan lalu telah buka restoran khas masakan Indonesia di Hô Chí Minh City, Sari Indo namanya. Lokasinya tepatnya ada di 70 Mạc Đĩnh Chi, phường Bến Nghé, Quận 1. Atau klik untuk melihat lokasi di Google Maps.

Update: Restoran ini sudah tutup.

Sesaat sebelum adzan maghrib, tak perlu berdesak-desakan di rumah-rumah makan terdekat. Dengan santai orang-orang yang hendak membatalkan puasanya dapat memesan teh panas, kue-kue, dan atau penganan khas negeri paman Hô. Itu jadi alasan nomor empat.

Suaka rohani. Dibangun tahun 1935 oleh para pedagang dari India.  

Tahun lalu saya bersama keluarga melaksakan shalat Idul Fitri juga di kota ini, di sebuah masjid di tengah kota. Masjid yang biasa saya kunjungi karena dekat dari kantor dan dekat ke mana-mana berlokasi di 66, Đông Du, phường Bến Nghé, Quận 1. Kini masjid ini dipenuhi oleh pemeluk agama Islam dari Afrika, Persia, India, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Lokasi akuratnya silakan klik.

Yang keenam, dan yang paling berkesan, adalah saya bisa tersenyum lebih banyak di dua Ramadhan terakhir ini. Teman-teman kantor yang tahu saya berpuasa sering kali cengengesan sambil bercanda mengajak makan dan memeriksa perut saya apakah sudah keroncongan atau belum. Lalu mereka selalu geleng-geleng keheranan kalau tahu kalau selama ada cahaya matahari saya juga tak boleh minum. Lalu teman saya dari bagian purchasing suka sekali bergulat dengan saya untuk menguji saya lemas atau tidak. Waktu mereka tahu saya tak boleh berkata kasar, bertindak buruk, tak boleh membalas kalau digoda, dan sebagainya, mereka tertawa-tawa dan berkata jahil, "Aha! Sekarang saatnya ngegebukin Moerat!" Which they usually did.  And I feel great because they don't pity me.


Dengan berbagai kondisi yang berpotensi mempersulit shaum, nyatanya segala sesuatu malah sangat mudah. Rekan kerja makan pizza dengan aroma yang mengepul memenuhi ruangan ketika rapat di siang hari sama sekali tak membuyarkan konsentrasi. Tak pula bangkit berahi melihat kelebatan pemudi-pemudi di kota ini yang berpakaian relatif lebih terbuka dan menerawang. Juga tiada amarah yang tersulut melihat pria-pria Việt Nam menikmati berbotol-botol bir di tepi-tepi jalan.


Dugaan saya, yang saya alami di Việt Nam pasti dialami juga oleh rekan-rekan dari Indonesia. Saya duga rekan-rekan di Thailand, Burma, Laos, Kamboja, dan Filipina juga mengalaminya. 


Menjadi minoritas bukan hal yang menyulitkan apalagi mengerikan.


Kaki lima. Kedai di tepi jalan di Bangkok, Thailand.

Terbalik dengan yang terjadi di tanah air, sudah sedemikian mudahnya menjalankan ibadah puasa di bulan yang penuh rahmat, masih juga tak sanggup hawa nafsu. Atas nama Ramadhan, golongan yang kuat dan mengaku umat terbaik menggilas kaum lemah yang dituduh jahil dan munkar.

Saya tak pernah mau terganggu dengan orang-orang yang tidak puasa. Tak pernah pula mau memaksakan orang lain ikut menikmati bulan penuh rahmat dengan menurunkan tirai-tirai di rumah-rumah makan, menutup toko-toko yang menjualan penganan, apalagi sampai merusak dan meluluhlantakkannya.


Saya bersyukur karena telah memilih untuk bersikap demikian karena saya tak perlu melumuri tangan saya dengan darah dan air mata akibat menghancurkan sebuah negeri karena harus mengikuti apa yang saya percaya, membantai sebuah bangsa karena saya tak sanggup menahan lapar dan dahaga.


Dalam berbagai kisah, penyebab utama hancurnya sebuah bangsa biasanya bukan karena serbuan bangsa lain. Melainkan hancur oleh tingkah laku dan perangai buruk bangsa itu sendiri. Invasi hanya pemicu.


Jadi, untuk tak yang tidak berpuasa silakan menikmati hidangan. Tak usah sungkan.

Wednesday, July 6, 2011

Gambar Ini Selalu Berubah....

Ganti! Entah sampai kapan gambar ini tetap ada....

Baru saja browsing ke lorempixum.com yang menyediakan contoh gambar yang selalu berubah. Tentunya lorempixum adalah plesetan dari lorem ipsum, teks yang biasanya dijadikan sebagai teks contoh. Nah, silakan coba!

Oh, ya... tentu saja gambar-gambar di situ hanya untuk dummy sebuah desain grafik. Tak bisa digunakan untuk desain akhir. Biasa, masalah hak cipta.

Kalau tak percaya, coba saja refresh artikel ini. Pasti gambarnya akan terus berubah.

Saturday, July 2, 2011

MTV Việt Nam


7.25
Saya menulis ini sembari menunggu saluran ini tayang ke dalam kanal-kanal televisi kabel. Saat saluran musik yang telah di-localize ini menerobos masuk ke Việt Nam. Well, setidaknya saya memulai menulis di saat itu....

1.45 Hari Berikutnya
Untuk kali ini, acara lokal masih tayang dua jam saja. Untuk berikutnya, jam tayangnya akan bertambah. Sedikit demi sedikit tentunya. Begitu pula dengan grafiknya, dari yang paling simple. Secara perlahan akan ditingkatkan kesulitan dan kerumitannya.

Ada sesuatu yang ajaib di saluran ini, tayang tanpa uji tayang terlebih dahulu. Pendapat saya, itu gila! Namun di sisi lain, dengan berperisai 'mati rasa', panik tak menyelinap dan atau merembes ke dalam pikiran.

Dengan segala kegilaan yang telah terjadi, saya jadi belajar banyak cara men-setup sebuah televisi baru. Bagaimana grafik ditempel ke dalam siar, promosi diselipkan, jadwal diatur, klip acara polos, dan berbagai elemen yang membuat sebuah channel menjadi utuh.

Koordinasi dengan pemilik brand juga menjadi pengalaman menarik. Gue merasa canggung dengan cara pendekatan yang mereka lakukan. Bukan salah, tapi karena tidak pernah.

Bottom line, banyak pelajaran yang didapat, namun banyak pula yang tak patut ditiru.

Tuesday, June 28, 2011

Daytum dan Nicolas Feltron

Aplikasi Daytum. Catat untuk diri sendiri

Seorang teman bercerita tentang pamannya yang senang sekali mencatat tentang apa yang telah dilalui dalam sebuah hari. Salah satunya adalah mencatat perjalanannya dari satu tempat ke tempat berikutnya. Mungkin kelihatan seperti penderita OCD namun itulah yang membuat saya semakin gemar mencatat.

Mencatat, menurut saya, berbeda dengan menuliskan catatan harian yang umumnya penuh dengan pendapat pribadi. Mencatat biasanya bisa berguna dikemudian hari bukan sekadar menumpahkan isi hati. Kalau cukup lengkap, catatan bahkan bisa dikembangkan menjadi sebuah karya ilmiah. Yep, it's sound geeky, ain't it?

Nah, seandainya paman itu bernama Nicolas Feltron, dia pasti sudah jadi idola desainer infografik saya. Feltron suka sekali mencatat kegiatannya sehari-hari. Makan apa, naik kendaraan apa, olahraga apa, apa pun. Hasilnya bisa Anda lihat di situs miliknya.

Lalu, dia pun bersama Ryan Case menciptaka Daytum yang berfungsi mencatat apa pun yang Anda inginkan. Daytum yang dirancang Feltron menyajikan data-data yang Anda input dalam berbagai infografik sederhana yang malah enak dilihat.

Anda bisa coba sendiri, tentunya Anda juga perlu self discipline ketat. Betah mengisi data terus-terusan?

Monday, June 13, 2011

Pesta Rakyat 2011

Lencana Pesta Rakyat 2011 yang tak pernah dipesan.

Saya diminta kembali untuk membantu membuatkan banner untuk Pesta Rakyat 2011 yang diselenggarakan oleh Masyindo di Hồ Chí Minh City. I think I wouldn't pass a chance to do what I like which only have little restrains, with no money involved. And that exactly what I did.

PR2011 diadakan untuk memperingati 66 tahun Indonesia Merdeka. Lucunya, Tujuhbelasan ini dilakukan di awal Juni 2011. Alasannya, tahun ini bulan Ramadhan dan bulan Agustus bedempetan. Selain itu, warga Indonesia di HCMC biasa berlibur di bulan Agustus yang bertepatan dengan libur sekolah.

Selama kegiatan berlangsung, saya hanya sanggup aktif membantu sampai matahari tepat di atas kepala. Panas matahari di Hồ Chí Minh City meluruhkan pertahanan tubuh. Baru setelah matahari condong stamina kembali ke badan.

Saya sengaja berperan serta dalam acara ini karena ingin bersenang-senang. Never for the glory nor for the fame. Lucunya, dalam skala yang lebih kecil, acara ini mengingatkan saya pada Fancy Nite, acara pesta kostum di kampus untuk merayakan rekan-rekan di wisuda. Bukan soal kegilaannya, tapi soal persiapan dan segala simpang siurnya. Dan seperti biasa, menjadi panitia ya... lebih melelahkan daripada menjadi peserta.

Saya memunggungi lensa, dalam foto Eko Hidayat.

Selain itu, PR2011 mengingatkan saya akan pertandingan basket. Bagaimana rasanya sebuah tim senyam-senyum menghapus kelelahan dan nyeri. Bagaimana rasanya seseorang larut dalam sebuah satu kesatuan untuk mencapai sebuah angan-angan. Bagaimana rasanya percaya satu sama lain.

Saya selalu percaya, kalau seseorang bergembira dan bersungguh-sungguh walau dalam sesuatu yang sederhana, something good will happen. Walau itu bukan dalam bentuk medali, piala, atau semacamnya.