Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Tuesday, April 30, 2019

TML, Tempo Media Lab.

Tempo Media Lab., disingkat TML, merupakan desk termuda dari kanal berita online Tempo.co milik Tempo Media Group.

Satuan tugas TML merupakan desk yang bertanggung jawab untuk pertama,  mengaplikasikan tools yang tersedia dan menciptakan tools baru untuk memperkaya berita. Kedua, bereksperimen untuk menciptakan cara-cara baru dalam menyampaikan berita.

Salah contoh yang paling saya suka adalah sebuah newsgame tentang Pilpres 2019. Permainan ini berfungsi untuk mengenalkan pernyataan-pernyataan calon pasangan presiden dan wakil presiden pada masa kampanye dan lima putaran debat di Pemilihan Presiden 2019. Nama permainan itu adalah Teliti Sebelum Memilih.

Pada masa-masa yang disebutkan di atas, hoaks tersebar begitu luas dan pekat. Media sosial turut membantu tersebarnya kabar-kabur, misinformasi, sampai disinformasi. Akibatnya para pemilih dibuat kebingungan dengan berbagai pernyataan para pasangan yang sulit dibedakan hulu dan hilirnya, ujung dan pangkalnya.

Teliti Sebelum Memilih menjadi penting dan relevan dengan para pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap Pipres 2019. Apa iya? Silakan coba berita dalam bentuk permainan itu.

...

Teliti Sebelum Memilih merupakan satu dari beberapa produk yang berhasil diciptakan oleh TML. Masih banyak produk-produk lain yang sudah tayang dan masih dalam pengembangan. TML, membutuhkan banyak waktu, energi, dan pikiran. Sejak Maret 2017.

Sebuah infografik dalam kanal Grafis di Tempo.co 


Sekembalinya dari Vietnam hingga hari ini, saya mengawasi lebih dari setengah lusin pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan daya pikir tak lazim seperti pekerjaan di TML. Hampir semuanya merupakan proyek perintis, seperti...


  1. Kanal Grafis yang berisi tentang infografis.
  2. Kanal Data yang bersisi tentang data dan pengembangannya untuk jurnalisme data.
  3. Kanal Cek Fakta yang merupakan upaya Tempo.co untuk menyanggah hoaks
  4. Kanal Investigasi yang berisi tentang artikel-artikel investigasi Tempo.co
  5. Kanal TML yang merupakan wadah untuk laporan-laporan eksperimental Tempo.co
  6. Versi Digital Majalah Berita Mingguan Tempo
  7. Versi Digital Koran Tempo
  8. Digital Pioneering Jack of All Trades 
Dan saya duga... tidak akan berhenti di situ.

Monday, April 25, 2016

Logo 45 Tahun Tempo Terbit yang Tak Terpilih



Dua logo di atas saya desain dalam rangka merayakan 45 tahun Tempo terbit. Sengaja saya tak menggunakan warna merah, warna khas Tempo, karena saya ingin mencoba mendesain logo yang mewakili sebuah event yang tidak menggunakan warna korporat. Pada akhirnya, kedua logo di atas tidak dipilih untuk kemeriahan itu.

Namun, saya juga membuat alternatif dari desain yang pertama dengan warna korporat. Tentu saja.


Monday, September 7, 2015

Graphic Designer vs. Runner



Day time, I'm a graphic designer. During my free time, I run.

Ada rasa bosan yang harus dikalahkan ketika melakukan olah raga, berlari terutama ketika harus menempuh jarak jauh. Tak ada masalah ketika saya berlari lima sampai sepuluh kilometer. Lebih dari itu, kerepotan mulai bermunculan.

Pertama, masalah hidrasi dan nutrisi. Tubuh menguras energi cadangan yang tersimpan di dalam tubuh ketika berlari jarak jauh, glikogen dalam tubuh seperti bahan bakan minyak untuk mobil. Semakin jauh jarak tempuhnya semakin repot manajemen telan-menelan ini. Pelari jarak jauh harus mempersiapkan minuman serta makanan yang mudah dikonsumsi dan mudah dicerna, sehingga tubuh mendapatkan energi yang diperlukan selama berlari.

Urusan di atas mirip seperti ketika urusan rancangan hanya berkisar logo atau stand alone poster, desainer tak menghadapi keruwetan berarti. Tapi kalau urusannya sudah aplikasi diberbagai media serta timetable yang berbeda, runyam! Tak berbeda dengan urusan persiapan hidrasi dan nutrisi, desainer juga harus mempersiapkan template dan acuan aplikasi-aplikasinya. And you know how it is.

Kedua, melawan bosan. Pelari harus melakukan gerakan yang sama berulang-ulang dalam lomba, apalagi kala berlatih. Latihan yang harus ditempuh untuk sebuah balap lari memakan waktu berbulan-bulan. Berulang-ulang dan terus menerus demi menyempurnakan form lari serta membentuk running economics yang cocok. Kira-kira mirip seperti adegan latihan dalam film Karate Kid.

Bosan bukan hal asing untuk para desainer. Menghadapi aplikasi desain yang sama terus-menerus, hanya mengubah teks dan mengurus foto membuat otak seperti disuguhi makanan yang sama terus menerus. Template yang itu-itu lagi tanpa boleh mengubahnya. Sepeti kutukan yang tak pernah diangkat.

Ketiga, rasanya tak selesai-selesai. Dalam marathon yang baru saja saya lalui, Bali Marathon 2015, walaupun saya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi jarak yang harus saya tempuh, tetap saja perasaan tak kunjung usai menyerang. Empat puluh dua kilometer rasanya seperti penyiksaan, apalagi tanjakan di kilometer 30 sampai 35. Tanpa determinasi, rasanya tak mungkin saya menerobos garis finish.

Desainer biasanya menyalahkan beberapa orang untuk hal ini; account executive dan client. Tapi sebaiknya jangan dilakukan. Bila desainer memaki-maki mereka, sama seperti pelari memaki-maki tanjakan. Tak kan bisa berubah bagaimana pun caranya. Yang hanya bisa dilakukan hanya dikerjakan sepenuh hati, sekuat tenaga, selama hayat masih dikandung badan.

Keempat, setelah selesai, harus mengulang lagi dari awal. Setelah sebuah lomba selesai dan diikuti oleh masa pemulihan, pelari harus mulai berlatih dari dasar lagi. Terus memperbaiki form yang sudah diasah sebelumnya. Menyempurnakan running economics yang sudah ditempa sebelumnya.

Setelah proses yang menyebabkan hati penat, tetap saja kan desainer harus membuat rancangan awal untuk berbagai pitching? Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan. But that's okay. That's what we prefer to do, don't we?


Day time, I'm a graphic designer who wish I could run. During my free time, I run and hope I can get back to pencil and paper.

Monday, August 24, 2015

Bersepeda dalam Kantor

Sudah empat bulan saya menempati kantor baru di Palmerah Barat. Banyak hal-hal baru yang saya dan teman-teman dapati di sini. Namun ada kenangan yang masih tertancap di kantor lama, Kebayoran Center. Video di atas salah satunya.

Monday, August 17, 2015

Akademi Melukis

Episode pertama. Cara sederhana menggambar kucing.

Kali ini kesibukan saya bertambah. Selain kegiatan sehari yang biasanya dipenuhi dengan rapat NewsRoom, mendesain berbagai outlet Tempo, dan mengevaluasi desain-desain yang sudah diterbitkan, kini saya juga mengisi sebuah kanal di TempoChannel.

Kanal yang saya asuh, berisi tentang cara menggambar berbagai benda di kehidupan kita sehari hari, benda-benda yang tak terlalu rumit seperti kuas, palu, martil, bola, dan ketupat.

Dua episode pertama kanal ini ditujukan untuk anak-anak. Kemudian sejak episode ketiga dan seterusnya ditujukan untuk pemirsa yang lebih luas, artinya, termasuk orang-orang dewasa.

Untuk menonton videonya, silakan klik.

Tuesday, August 11, 2015

Adobe Digital Marketing Symposium 2015 - Part 2/2

Tanggal 30 Juli 2015, saya berangkat ke Singapura bersama dua teman kantor untuk menghadiri Adobe Digital Marketing Symposium 2015. Sama seperti alasan menghadiri simposium-simposium sebelumnya, saya ingin mendapatkan insights dari para praktisi hal-hal teknis soal mendesain bisa dicari dengan mudah di web. Yang membedakan lagi, kali ini yang membuat saya tertarik adalah soal pemasaran, a.ka. marketing, karena saya menganggap desain juga perlu pemahaman marketing, lebih khusus lagi digital marketing.

Dalam simposium ini, para pembicara menggunakan Adobe Marketing Cloud dan tentu saja mereka mempromosikan produk tersebut.

Post ini adalah bagian kedua dari dua bagian

Digitized Market Targeting

Waralaba Starwood Hotels and Resort mengembangkan database pelanggan yang sudah terdigitalisasi. Data pelanggan dikumpulkan melalui data anonymous dan authenticated customer yang sukarela menyerahkan data-data pribadi mereka. Dengan data-data tersebut, Starwood mengemas stategi pemasaran yang sinkron antara marketing dan brand.

Starwood dan hotel-hotel yang dikelolanya.


Sehingga Starwood tak asal-asalan mengirimkan email blast yang menyasar seluruh pelanggan dalam database mereka. Namun Starwood dapat mem-personalize email-email yang dibuat oleh tim pemasaran dan mengirimkan email-email tersebut pada pelanggan-pelanggan yang sesuai dengan strategi tim pemasaran pula. Dengan demikian, email-email yang dikirim lebih tepat sasaran.

Sementara itu, DBS Bank berusaha mengubah perilaku nasabahnya dari yang terbiasa menggunakan mesin ATM ke pengguna internet banking dan aplikasi. Salah satu caranya, DBS mengirimkan pesan singkat pada nasabahnya yang baru saja menggunakan ATM untuk memeriksa saldo. Isi pesan tersebut, "Akan lebih mudah dan nyaman bila Anda memeriksa saldo anda melalui aplikasi DBS di telepon selular Anda."

Tech Investment

Selain mengubah perilaku pelanggan, DBS Bank juga menginvestasikan resources mereka pada teknologi. Tak hanya pada back end tapi juga pada front end, seperti teknologi-teknologi yang mendukung user interface pada internet banking dan app.

Ad Agencies

Sementara di itu, Unilever mengganggap bahwa peran agensi periklanan akan berkurang seiring dengan berkembangnya marketing cloud. Tim pemasaran kini tanpa bantuan agensi dapat membuat materi-materi pemasaran dengan mudah melalui sistem Adobe Marketing Cloud. Dengan ADM, tim pemasaran juga menyingkat waktu pembuatan marketing materials dengan tersedianya template yang langsung siap digunakan.

Marketing Beyond Marketing

Coca-Cola mengembangkan pola pemasaran yang lebih jauh daripada sekedar experience yang secara analog dulu diwakili dengan rasa dingin, pemuas dahaga, dan senyuman di wajah. Secara digital, mereka ingin menjangkau pelanggan mereka dengan teknologi masa kini. Salah satunya dengan aplikasi Coca-Cola Freestyle.

Aplikasi Coca-Cola Freestyle.

Dengan aplikasi yang digunakan melalui smartphone pelanggannya, para pelanggan dapat membuat resep campuran berbagai produk minuman dari Coca-Cola. Lalu resep itu disimpan dalam ponsel masing-masing pengguna yang sewaktu-waktu dapat digunakan langsung ke vending machine Coca-Cola dengan cara 'melemparkan' resep tadi.

Conclusion....

Dari simposium itu saya belajar bahwa kini saatnya para desainer tak cukup hanya merancang printed matters, tampilan dalam website, grafis-grafis dalam user interface pada berbagai aplikasi. Namun desainer kini dituntut untuk dapat menciptakan sebuah dunia. Singkatnya, Worlds insted of Websites.

Tulisan di atas berdasarkan pengalaman rangkuman dari pembicara Chris Norton dari Starwood Hotels & Resorts, Domenic Fuda dari DBS Bank, dan Aseem Puri dari Unilever.

Adobe Digital Marketing Symposium 2015 - Part 1/2

Tanggal 30 Juli 2015, saya berangkat ke Singapura bersama dua teman kantor untuk menghadiri Adobe Digital Marketing Symposium 2015. Sama seperti alasan menghadiri simposium-simposium sebelumnya, saya ingin mendapatkan insights dari para praktisi hal-hal teknis soal mendesain bisa dicari dengan mudah di web. Yang membedakan lagi, kali ini yang membuat saya tertarik adalah soal pemasaran, a.ka. marketing, karena saya menganggap desain juga perlu pemahaman marketing, lebih khusus lagi digital marketing.

Dalam simposium ini, para pembicara menggunakan Adobe Marketing Cloud dan tentu saja mereka mempromosikan produk tersebut.

Post ini adalah bagian pertama dari dua bagian.

Product and Brand as Marketing

Dalam dunia desain, produk akhir harus selalu mewakili brand. Layout majalah harus mampu menampilkan roh dari merek dagang tertentu. Begitu pula dengan pemilihan foto dan pembuatan video. Semua harus selaras.

Tentu saja tujuan akhir dari desain yang selaras, misalnya, adalah terjadinya brand awareness dan peningkatan penjualan. Namun di saat-saat seperti sekarang ini, praktisi desain dan praktisi pemasaran tak boleh berhenti di situ saja. Namun harus berkembang menjadi usaha-usaha untuk menciptakan loyalties, termasuk usaha-usah untuk meng-upgrade pembeli eceran menjadi pelanggan setia.

Consistent and Continuous

Selaras dan berkesinambungan adalah mantera yang sering dirapal oleh para desainer sehingga, contohnya, seluruh layout dalam printed matters selaras. Dalam ADM 2015, definisi Consistent and Continuous diperlebar lebih jauh lagi.

Hal-hal yang harus selaras dalam produk-produk desain kini juga merangkum user/customer experience dalam layar-layar berbagai perangkat digital, customer services, advertisement campaign, dan produk itu sendiri.

Salah satu brand yang selaras dan sinambung soal pemasaran, dalam pikiran saya, tentu saja Apple Inc.

Apple Store di Fifth Avenue, New York.

Apa yang terjadi apabila sebuah brand tidak selaras dan berkesinambungan? Ketidakselarasan dan ketidaksinambungan sebuah merek dagang akan membingungkan pelanggan sehingga salah satu akibat yang mungkin terjadi adalah pelanggan harus mengalami user/customer experience yang berbeda-beda saat pelanggan menggunakan perangkat dengan dimensi layar yang berbeda. Akibatnya, pelanggan akan terus mengalami proses pembelajaran yang akan membuat mereka frustasi. Akhirnya pelanggan akan meninggalkan brand.

Tulisan di atas berdasarkan pengalaman saya yang saya alami dan tambahan rangkuman dari pembicara Brad Rencher dari Adobe Digital Marketing.

Monday, August 10, 2015

Infografik Pancawati Trail Run

Peta Lintasan. Fun trail dengan jarak 16 km.
Fandhi Achmad akan berangkat ke Ultra Trail du Mont Blanc di Prancis akhir Agustus 2015. Untuk menyokong Agi, sebutan Fandhi, Depok Running Buddy menyelenggarakan Pancawati Trail Run untuk menggalang dana. Kemudian, dana ini akan dipergunakan untuk berbagai keperluan berlomba Agi.

Kali ini, Moerat berperan serta sebagai tim desain. Sesuai dengan kegemaran Moerat, dia membuat infografik dan peta, termasuk membuatkan berbagai desain dan peta lintasan di atas. Dengan survey yang cukup, hasilnya dituangkan ke dalam bentuk lintasan, jarak lintasan, profil ketinggian, informasi di tiap water station, dan informasi-informasi lain yang masih relevan.

Hashtag untuk event ini:
#IDNgoestoUTMB
#pancawatifuntrail
#derbyrunners

Akses situs-situs yang bersangkutan:
http://ultratrailmontblanc.com/en/
http://http://pancawati.depokrunningbuddy.com/

Monday, August 3, 2015

Media Internal Tempo


Seluruh awak Tempo Inti Media tbk. bergabung sejak tanggal 27 April 2015. Untuk menandai itu, media Internal yang sudah tiga tahun terbit tak menentu saya perbaharui desainnya. Selayaknya media internal, setiap edisi Internal berisi tentang berita-berita berkisar karyawan Tempo. Mulai dari yang serius sampai yang penuh canda tawa.

Monday, July 27, 2015

deBrads dan Semanggi Challenge

Di awal tahun, ada dua logo yang saya kerjakan dengan alasan hobi. Yang pertama adalah logo deBrads, komunitas entrepreneur yang masih bergerak dalam bidang jasa penyokong event-event lari. Logo yang kedua adalah Semanggi Challenge yang berlangsung di kawasan Semanggi Jakarta. Keduanya memiliki akun instagram dengan ID masing-masing deDrads.id dan SemanggiChallenge.





Monday, July 20, 2015

Sukamantri Trail Running 2014


Pada September 2014, Depok Running Buddy a.k.a. Derby melakukan trail running di Sukamantri. Dalam kesempatan itu, saya mencoba untuk membuat video dokumenter dengan hanya menggunakan iPhone 4.

Masih banyak kekurangannya, terutama stockshot dan storytelling. Akibatnya, dokumentasinya masih membosankan dan hanya membuat tertarik para penggemar lari lintas alam saja. Selain itu juga lemahnya narasi dan musik latar.

Hal lain, ternyata pengunggahan ke Youtube masih terkena masalah copyright lagu-lagu. Sehingga tak bisa ditayangkan di beberapa negara dan tak bisa di-monetize. Ini menjadi catatan penting.

Monday, July 13, 2015

Gede-Pangrango 100 2014

Di akhir tahun 2014, saya mengikuti kegiatan lari lintas alam, yang lebih dikenal dengan trail running, sebagai supporting team Depok Running Buddy (Derby) dalam Gede-Pangrango 100. Saat itu saya mengajukan diri sebagai koordinator. Berikut dua infografik berupa peta yang saya buat untuk acuan supporting team.

Peta komunikasi tim support Derby di GP100.

Peta lintasan lari di GP100
Supporting team berfungsi untuk menyokong para pelari yang mengikuti lomba GP100. Sokongan berupa shelter, nutrition, dan medical aid. Untuk tahun 2014, sokongan baru bisa diberikan pada para pelari Derby dan Flying French. Mungkin di tahun mendatang, sokongan bisa diberikan pada pihak-pihak lain.

Monday, July 6, 2015

Tapering a la Rock Run Fun

Beberapa bulan ini, prioritas bergeser ke kegiatan berlari. Tapi bukan berarti berhenti mendesain. Berikut salah satu urutan rancangan tapering week untuk Jakarta Marathon. Tulisannya akan ditayangkan di theruntwothree.com





Monday, March 23, 2015

M. Arsad bin Mamit a.k.a. Babe Genset


EULOGI

M. Arsad bin Mamit
29 Desember 1953 - 23 Maret 2015

Hujan atau terik, dia selalu tersenyum dengan susunan gigi yang ada dan tidak. Becanda dan bekelakar selalu jadi kesehariannya. Cengar-cengir.

Sering dia dan saya duduk berdampingan menikmati hidangan dari warung ibu, ya... warung tanpa nama itu. Selama makan, tak mungkin kami tak baku ledek dan tertawa terkekeh-kekeh. Dan tak jarang santapan menyedak tenggorokan karena salah masuk. Hiruk-pikuk terdengar oleh seisi warung, entah terhibur atau sebal.

Dia kami panggil babe Genset. Enggak perlu ditanya kan kenapa Genset? Baru ketika melayat ke liang lahatnya, saya ketahui namanya bukan Rahmat, nama yang juga sering disematkan padanya oleh para tetangga.

Babe sudah pergi tapi akan tetap gue kenang dia setiap makan di warung mana pun, bernama atau tidak.

Selamat jalan. Nanti kita makan bareng lagi di alam berikutnya. Baku ledek pula tentunya.

*Babe adalah operator pembangkit listrik darurat Tempo Inti Media tbk. di  kantor Kebayoran Center.

Thursday, October 16, 2014

Video Pemotretan Jokowi di Klender


Video pemotretan presiden terpilih Joko Widodo. Selamat menikmati. Untuk yang ingin menikmati behind the scene pemotretan presiden terpilih Joko Widodo dalam bentuk foto dan teks, silakan klik post ini.

Pemotretan Jokowi di Klender

Sabtu, 11 Oktober 2014
Di sebuah tempat jual beli kayu gelondongan di Klender, saya dan pemimpin proyek edisi inaugurasi Ratih Purnama Ningsih celingukan melihat tempat-tempat yang akan dijadikan lokasi pemotretan presiden terpilih Joko Widodo untuk majalah Tempo yang akan diterbitkan tanggal 20 Oktober 2014, bersamaan dengan dilantiknya Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2014 - 2015.

Salah satu tempat jual beli kayu gelondongan di Klender.

Kami setidaknya harus menentukan tiga tempat pemotretan. Tempat sang presiden terpilih menyerut kayu, memilih sebuah balok kayu, dan bersepeda pergi dari tempat ini. Beruntung lokasinya menunjang.



Minggu, 12 Oktober 2014
Kembali ke Klender. Kali ini saya bertiga, bersama Ratih dan Ijar Karim. Kami kembali ke lokasi yang berada di dekat pertigaan Pahlawan Revolusi dan Cipinang Muara III. Sesampainya di sana, tim dari pihak Jokowi—panggilan Joko Widodo—sudah menunggu.

Sesampainya di sana, saya dan Ratih menunjukkan kepada Ijar tempat-tempat yang sudah kami tentukan sebelumya. Tanpa berlama-lama Ijar segera menge-set tempat dengan menentukan posisi kamera dan lampu-lampu kilat.

Lampu-lampu kilat yang akan kami pegangi selama pemotretan.
Kami tak punya banyak waktu persiapan. Sebelum persiapan selesai, seorang anggota Paspampres menjawil saya, "Bapak sudah mau berangkat. Dua puluh menit lagi sampai."

Ijar Karim sudah terbiasa bekerja dalam waktu sempit. Sehingga pemberitahuan anggota Paspampres tadi tak begitu dihiraukannya. Ia tetap berkonsentrasi mempersiapkan lokasi pemotretan. Sang fotografer meminta saya dan Arif Zulkifli, pemimpin redaksi Tempo, untuk menjadi model sebelum presiden tiba nanti.

Pemred jadi model dadakan.
Karena tempatnya yang cenderung sulit dipersiapkan, Ijar meminta Ratih dan saya untuk memegangi tiga buah lampu kilat supaya mudah diarahkan dengan voice control, alias digerakan dengan perintah mulut. Lagi-lagi cara begini bukan yang pertama kami lakukan.

Lampu kilat dipegangi oleh Ratih.
Begitupula dengan rail. Tak ada waktu dan tempat yang cukup untuk mempersiapkan rel sehingga akhirnya Ijar kembali memerintahkan Ratih dan saya untuk memegangi flash, kali ini sambil berjalan mengikuti presiden terpilih Joko Widodo mengendarai sepeda.

Lampu flash berjalan.
Singkat cerita, inilah cover majalah Tempo yang akan terbit tanggal 20 Oktober 2014.

Selamat menikmati. Untuk yang ingin menikmati behind the scene pemotretan presiden terpilih Joko Widodo dalam bentuk video, silakan klik post ini.

Wednesday, September 24, 2014

Priyanto Sunarto

Priyanto Sunarto. Foto milik DKV FSRD ITB

UELOGI

Priyanto Sunarto
10 Mei 1947 - 17 September 2014

Empat semester saya berkuliah di FSRD, saya sering mendengar nama Priyanto Sunarto berdengung dalam perbincangan sehari-hari di antara para mahasiswa tingkat tiga dan empat. Nama beliau sering mencuat dalam diskusi sehari-hari para dosen. Nama beliau diucapkan seolah-olah nama yang bukan berasal dari muka bumi. Ethereal.

Sebelum tahun 1998, saya tak mengenal Pak Pri—begitu saya memanggilnya. Dalam dua tahun berkuliah, saya hanya beberapa kali saya berpapasan dengan beliau di dalam program studi Desain Komunikasi Visual yang terletak di lantai dua Fakultas Seni Rupa dan Desain, fakultas yang letaknya di bagian depan Institut Teknologi Bandung.

Baru di kelas Ilustrasi III saya bertatap muka dengan beliau di dalam ruangan. Tahun ketiga di kampus inilah baru saya benar-benar melihat pak Pri dengan jelas dalam waktu yang cukup lama.

Beliau tampak biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Perawakannya kira-kira setinggi saya. Pandangannya berkabut seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Senyumnya tipis, antara iya dan tidak. Bicaranya tak jelas dengan suaranya yang dalam. Tipe laki-laki yang takkan saya hiraukan bila melintas di keramaian.

Berbanding terbalik dengan reputasinya yang sudah mencapai 'legenda hidup'.

Namun saat itu, dalam waktu kurang dari dua jam saya mulai bisa lihat bentuk asli sang legenda. Pak Pri menunjukkan tajinya, menunjukkan siapa beliau sesungguhnya, membagi ilmunya tanpa takut kehilangan, menyediakan waktunya yang takkan mungkin kembali.

Dalam semester itu dan semester berikutnya, beliau membeberkan koleksi pribadinya dalam proses belajar-mengajar. Koleksinya tak hanya koleksi dua-tiga tahun terakhir tapi koleksi sejak dia mulai mengoleksi, yaitu koleksi masa kanak-kanaknya, masa sekolahnya, masa kuliahnya, masa kerjanya, hingga masa itu. Beliau juga memampangkan karya-karyanya kuliahnya hingga karya-karya beliau yang terbaru, kumpulan karya yang dikumpulkan selama hampir tiga dekade!

Proses yang saya anggap hanya proses belajar-mengajar antara mahasiswa dengan dosennya pelan-pelan berubah menjadi proses master and apprentice, seperti padawan yang berguru pada jedi.

Pak Pri melakukan segalanya dalam proses itu, kecuali satu hal. Menurut saya hal yang tak dilakukan beliau itu merupakan hal yang paling mendasar dari cara beliau mengajar; sang dosen tak pernah mau memberitahu jalan mana yang harus diambil para mahasiswanya.

Dia memaksa kami untuk menentukan jalan kami masing-masing. Menjerumuskan kami untuk memutuskan sesuatu yang kami tak pernah tahu benar atau salah. Mendorong kami untuk berani berbuat daripada diam terbingung-bingung. Ajaibnya, pak Pri tak pernah melakukannya dengan gaya dosen killer, tapi beliau selalu mencabuk kami dengan senyum cengengesan.

Terkesan dengan cara beliau mengajar, saya bertekad untuk 'memaksa' beliau menjadi dosen pembimbing saya untuk tugas akhir nanti. Caranya, ketika semester ketujuh hampir selesai, saya sudah 'menyalip' penentuan dosen-dosen pembimbing tugas akhir dengan menyodorkan beliau contoh calon tugas pamungkas saya. Contoh kasar dari sebuah tugas yang belum pernah dilakukan oleh rekan-rekan mahasiswa sebelum saya, setidaknya sepanjang pengetahuan saya.

Cus. Tugas akhir komik stereogram.

Saya menyorongkan stereografi dalam bentuk komik sebagai tugas akhir kepada pak Pri. Saat itu beliau berkomentar dengan wajah datar, "Ah, kan masih semester nanti...." Dalam hati saya berkata, "Biarlah, yang penting nekat dulu." Walau tampaknya gagal tapi dua bulan kemudian tekad saya terkabul. Entah karena usaha saya 'menyalip' atau memang hasil diskusi para dosen. Either way, it was all good for me. Jadilah beliau dosen pembimbing saya untuk tugas akhir.

Kata stereografi mungkin terdengar aneh, tapi teknik ini adalah bentuk dasar dari film-film 3D yang kini mulai lazim ditayangkan di bioskop-bioskop. Untuk mencari penjelasan ilmiah mengenai stereografi saya harus menyeberangkan ke jurusan Fisika Teknik. Nah, sebagai landasan teknis, saya menggunakan karya Budi Widagdo yang berjudul 'Perangkat Optik Merekam Gambar Stereo dengan Penyajian Warna'.

Selama bimbingan, pak Pri selalu iya-iya saja. Hanya sesekali bertanya kelengkapan makalah dan hal-hal yang akan dipresentasikan. Khas pak Pri. Namun tiba-tiba di suatu sore beliau menyatakan sesuatu yang mengejutkan, "Nanti ketika presentasi, kamu harus jadi orang yang paling pinter di ruangan." Saya diam saja mendengarnya. Sebab kalau saya bertanya balik, beliau pasti menjawab, "Kamu cari caramu sendiri."

Long story short, saya akhirnya lulus dengan nilai yang saya harapkan.

Selesai berkuliah di FSRD ITB, saya kemudian bekerja di majalah berita mingguan Tempo selama 10 tahun. Ketika di bergabung di Tempo, saya terkejut karena ternyata pak Pri telah berpartisipasi sebagai ilustrator sejak tahun 1977. Dan beliau telah menjadi icon majalah Tempo sebagai kartunis yang tak tergantikan.

Setiap Rabu, pak Pri selalu menghadiri rapat Opini, rapat yang menentukan sikap Tempo setiap edisi. Bahkan di saat-saat terakhir beliau. Kartunis Tempo itu hampir pasti pulang pergi naik kereta api dari Bandung ke Jakarta. Mungkin, itu semacam ritual.

Dua tiga bulan sebelum kepergian beliau, pak Pri masih ngotot datang rapat Opini di Tempo. Beliau sudah ditopang oleh tongkat dan langkahnya sudah tertatih-tatih. Beberapa kali datang di atas kursi roda. Tubuhnya tak seperti dulu lagi, layu.

Tapi ada yang tak berubah. Pak Pri tetap cengangas cengenges bercanda-tawa dengan awak redaksi Tempo dalam rapat dan sesekali berubah serius ketika ada hal yang menarik dan serius dalam rapat Opini. Matanya yang berkabut itu menyala-nyala. Barangkali beliau merasa 'hidup' di rapat itu. Setidaknya itu yang dirasakan istrinya, bu Euis.

Kebetulan yang menarik bahwa pak Priyanto Sunarto wafat di hari Rabu. Membuat saya selalu mengenang pak Pri setiap rapat Opini dilaksanakan.

Sampai jumpa pak Pri, di kehidupan berikutnya.

Monday, April 28, 2014

Untukmu Indonesiaku oleh TV Tempo








Update kali ini soal pekerjaan terbaru saya, yaitu sebuah program bernama Untukmu Indonesiaku. Program talkshow ini akan menayangkan para kepala daerah yang mempromosikan daerah mereka. Nantikan di TV Tempo. Untuk sementara, link-nya saya sembunyikan dulu.

Detailnya menyusul, menunggu program ini selesai dan siap ditayangkan.

Saturday, January 25, 2014

Stagnasi 2013

Berbulan-bulan ini masih tak sempat juga meng-update blog ini. Ada berbagai alasan. Tapi untuk sementara, bolehlah membaca blog lain yang baru saya mulai di sini....

Friday, September 6, 2013

Kuas Virtual Kembali Online

Dinosaurus bangkit. Proses install ulang di kantor.

Sudah berbulan-bulan saya tak mem-post-kan tulisan saya di sini. Penyebabnya adalah kesibukan dan rusaknya hard drive laptop yang biasa saya pergunakan.

Sejak pulang dari pulau Pari, mulai muncul tanda-tanda yang aneh pada kinerja laptop. Semakin lama semakin lamban memproses. Akhirnya, operating system mulai ngadat. Diakhiri dengan HDD yang tak terdeteksi karena rusak.

Untuk memperbaikinya, perlu dana hampir empat juta rupiah. Enggak masuk ke dalam budget.

Setelah saya periksa back up di external hard drive, ternyata data-data penting sebagian sudah di-back up. Sedangkan sisanya sudah di-upload ke situs-situs yang menyimpan dan menampilkan portfolio. Dua situs itu ada di sini dan di sini.

Setelah membeli HDD baru dan mengembalikan sistem operasi, laptop dapat digunakan kembali. Sang dinosaurus bangkit! Walaupun belum semua aplikasi saya install kembali.

Fuih! Akhirnya semua bisa kembali seperti normal.